Rabu, 30 Maret 2016

Psikoterapi : Client Centered Therapy

A Konsep Dasar Client Centered Therapy

Konsep dasar dari client-centered therapy adalah bahwa inidividu memiliki kecenderungan untuk mengakutalisasikan diri (actualizing tendencies) yang berfungsi satu sama lain dalam sebuah organisme. Para terapis lebih terfokus pada “potensi apa yang dapat dimanfaatkan”. Didalam terapi, terdapat dua kondisi inti: congruence dan unconditional positive regard. Congruence merujuk pada bagaimana terapis dapat mengasimilasikan dan menggiring pengalaman agar klien sadar dan memaknai pengalaman tersebut. Unconditional positive regard adalah bagaimana terapis dapat menerima klien apa adanya, di mana terapis membiarkan dan menerima apa yang klien ucapkan, pikirkan, dan lakukan. Di samping itu , terdapat juga sejumlah konsep dasar dari sisi klien, yakni self-concept, locus of evaluation, dan experiencing Self concept merujuk pada bagaimana klien memandang-memikirkan-menghargai diri sendiri. Locus of evaluation merujuk dari sudut pandang mana klien menilai diri. Orang yang bermasalah akan terlalu menilai diri mereka berdasar persepsi orang lain (eksternal). Experiencing, adalah proses di mana klien mengubah pola pandangnya, dari yang kaku dan terbatas menjadi lebih terbuka.
·         Ada beberapa konsep-konsep kepribadian yang dikemukakan Rogers, yaitu:
a.       Pengalaman, yakni alam subjektif dari individual, di mana hanya indidivu spesifik yang benar-benar memahami alam subjektif dirinya sendiri;
b.      Realitas, yaitu persepsi individual terhadap lingkungan sekitarnya yang subjektif, di mana perubahan terhadap persepsi akan memengaruhi pandangan individu terhadap dirinya;
c.       Kecenderungan individu untuk bereaksi sebagai keseluruhan yang beraturan (organized whole), di mana individu cenderung bereaksi terhadap apa yang penting bagi mereka (skala prioritas);
d.      Kecenderungan individu untuk melakukan aktualisasi, di mana individu pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk menunjukkan potensi diri mereka, bahkan meskipun apa yang mereka lakukan (dan pikirkan) irasional;
e.       Kerangka acuan internal yakni bagaimana individu memandang dunia dengan cara unik mereka sendiri;
f.       Self atau diri, yakni bagaimana individu memandang secara keseluruhan hubungan  aku (I) dan diriku (me), dan bagaimana hubungan keduanya dengan lingkungan;
g.      Simbolisasi, di mana individu menjadi sadar dengan pengalamannya, dan simbolisasi itu seringkali muncul secara konsisten dengan konsep diri;
h.      Penyesuaian psikologis, di mana keberadaan congruence antara konsep diri dan persepsi individu akan menjadikan individu dapat melakukan penyesuaian psikologis (dan sebaliknya);
i.        Proses penilaian organis, di mana individu membuat penilaian pribadi berdasarkan nilai yang dianutnya; dan
j.        Orang yang berfungsi sepenuhnya, di mana orang-orang seperti ini adalah mereka yang mampu merasakan pengalamannya, terbuka terhadap pengalaman, dan tidak takut akan apa yang mereka sedang dan mungkin alami.

B.     Pandangan Terhadap Manusia
Carl Rogers memandang manusia, dalam hal ini klien, dengan berorientasi kepada filsafat humanistik, yaitu
1.      Inti sifat manusia adalah positif, sosial, menuju ke muka, dan realistik. Yang berarti pada dasarnya manusia itu bersifat positif, rasional, sosial, bergerak maju, dan realistik.tingkah laku manusia diorganisir secara keseluruhan di sekitar tendensi, dan polanya ditentukan oleh kemampuan untuk membedakan antara respon yang efektif (menghasilkan rasa senang) dan respon yang tidak efektif (menimbulkan rasa tidak senang).
2.      Manusia pada dasarnya adalah kooperatif, konstruktif dan dapat dipercaya.
3.      Manusia memiliki tendensi dan usaha dasar untuk mengaktualisasi pribadi, berprestasi, dan mempertahankan diri.
4.      Manusia memiliki kemampuan dasar untuk memilih tujuan yang benar, dan membuat pilihan yang benar, apabila ia diberi situasi yang bebas dari ancama. (Sukardi, 1984)

C.    Hakikat Manusia Menurut Pandangan Carl Rogers
1.      Hakikat manusia pada dasarnya baik dan penuh dengan ke positifan.
2.      Manusia mempunyai kemampuan untuk membimbing, mengatur dan mengontrol dirinya sendiri.
3.      Setiap individu pada dirinya terkandung hati penggerak yakni terbuka terhadap pengalaman sendiri, hidup berdasarkan pada kenyataan serta percaya pada diri sendiri.
4.      Setiap individu mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri, serta mempunyai dorongan yang kuat kearah kedewasaan dan kemerdekaan.

D.    Hubungan Antara Terapi Dan Klien
Client-centered therapy(CCT) menekankan pada sikap dan kepercayaan dalam proses terapi antara terapis dengan klien. Efektifitas dari pendekatan terapi ini adalah pada sifat kehangatan, ketulusan, penerimaan nonposesif dan empati yang akurat. Client-centered therapy beranggapan bahwa klien sanggup menentukan dan menjernihkan tujuan-tujuannya sendiri. Perlu adanya respek terhadap klien dan keberanian pada seorang terapis untuk mendorong klien agar bersedia mendengarkan dirinya sendiri dan mengikuti arah-arahannya sendiri terutama pada saat klien membuat pilihan-pilihan yang bukan merupakan pilihan yang diharapkan terapis. CCT membangun hubungan yang membantu, dimana klien akan mengalami kebebasan untuk mengeksplorasi area-area kehidupannya yang sekarang diingkari atau didistorsinya. Dalam Suasana ini klien merupakan narator aktif yang membangun terapi secara interaktif dan sinergis untuk perubahan yang positif. CCT cenderung spontan dan responsif terhadap permintaan klien bila memungkinkan. Seperti permintaan untuk mengubah jadwal terapi dan membuat panggilan telepon pada terapis.
Contoh-contoh dalam 3 macam formulasi kualitas terapis Rogers; yaitucongruence, ketika seorang klien mengatakan keengganannya mengunjungi terapi karena baginya membuang-buang waktu sang terapis. Maka sikap terapis yang ditunjukkan bahwa bagi sang terapis hal ini tidak akan mebuang-buang waktunya dan mengungkapkan bahwa terapi ingin bertemu dengan klien dilain waktu lagi jika terapis bersedia; unconditional positive regard, ketika terapis mengatakan bahwa masalahnya tidak akan berhasil diselesaikan maka terapis dapat bersikap dengan memberikan percayaan pada klien bahwa ia dapat menyelesaikan masalahnya dan terapis akan menerima klien apabila ia bersedia dating kembali; dan empathic understanding of the client’s internal frame of reference, saat klien menceritakan suatu kejadian, maka terapis mencoba memahami situasi saat itu yang terjadi pada klien dan mencoba mendapatkan tanggapan kembali dari klien dengan lebih banyak informasi.

E.     Teknik Konseling
Adapun teknik konseling yang digunakan dalam clien center therapy adalah sebagai berikut:
1.      Aceptance (penerimaan)
2.      Respect (rasa hormat)
3.      Understanding (mengerti, memahami)
4.      Reassurance (menentramkan hati, meyakini)
5.      Encouragement (dorongan)
6.      Limited Questioning (pertanyaan terbatas)
7.      Reflection (memantulkan pertanyaan dan perasaan)

F.     Tujuan Konseling
Pada dasarnya klien sendiri menentukan tujuan konseling, konselor hanya membantu klien menjadi lebih matang dan kembali melakukan aktualisasi diri dengan menghilangkan hambatan-hambatannya. Namun secara lebih khusus membebaskan klien dari kungkungan tingkah laku (yang dipelajarinya) selama ini, yang semuanya itu membuat dirinya palsu dan terganggu dalam aktualisasi dirinya.
Tujuan Konseling adalah menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration, dapat menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan. Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk apa ia perlu menjadi.

G.    Fungsi dan Peran Terapis
Fungsi terapis adalah membangun suatu iklim terapeutik yang menunjang pertumbuhan klien..terapis tidak dibatasi dalam bentuk bantuan yang dapat diberikan kepada klien bahwa klien-terapis berpusat dapat berfungsi sebagai sumber informasi tentang terapi lain atau perawatan dan sebagai orang yang membantu klien memanfaatkan terapi atau perawatan yang diberikan oleh orang lain Kadang-kadang membantu klien memanfaatkan terapi lain berarti meminimalkan kerusakan mereka ke klien yang terjadi seperti yang menguntungkan dia. Sampai pembantu lain, dokter, terapis psikologis dan perilaku, psychopharmacologists, dll, adalah, diri mereka sendiri, orang-berpusat tetap kasus bahwa banyak dari ahli melanggar hal-sendiri atau otonomi pasien dan klien mereka.
Terapi berpusat pada klien tidak menciptakan sebuah lingkungan di mana terapis akan memberitahu pasien apa yang dia harus berpikir atau lakukan. Alih-alih memberikan jawaban atau solusi untuk pasien, peran terapis adalah membantu pasien dalam menemukan jawaban sendiri. Proses, sementara kadang-kadang lambat dan tidak praktis, memiliki manfaat membantu pasien mengembangkan keyakinan pada kemampuannya untuk menghadapi situasi kehidupan, memeriksa mereka, dan akhirnya menemukan cara untuk secara efektif menangani mereka.
Terapis berfugsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi seseorang dengan jalan membantunya dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan person centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan seseorang untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.
Peran terapis client centered berakar pada cara-cara keberadaanya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik-teknik yang dirancang untuk menjadikan client ‘berbuat sesuatu’. Terapis client centered membangun hubungan yang membantu dimana client akan mengalami kebebasan yang diperlukan untuk mengeksplorasikan area-area hidupnya yang sekarang didistrosinya. Client menjadi kurang defensive dan menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada didalam dirinya maupun dalam dunia. Yang utama dan terutama, terapis harus bersedia menjadi nyata dalam hubungan dengan client.  Terapis menghadapi client berlandaskan pengalaman dari saat kesaat dam membantu client dengan jalan memasuki dunianya, melalui perhatian yang tulus, respek, penerimaan, dan pengertian terapis, sehingga client bisa menghilangkan pertahanan-pertahanan dan persepsi-persepsinya yang kaku serta bergerak menuju taraf fungsi pribadi yang lebih tinggi.

H.    Kelemahan dan kelebihan client centered therapy
a.      Kelebihan pendekatan client centered therapy
1.      Pemusatan pada klien dan bukan pada therapist
2.      Identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.
3.      Lebih menekankan pada sikap terapi daripada teknik.
4.      Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.
5.      Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi
6.      Menawarkan perspektyif yang lebih up-to-date dan optimis
7.      Klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya
8.      Klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi

b.    Kekurangan Pendekatan client centered therapy
1.   Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana
2.   Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan
3.   Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai individu.
4.   Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya.
5.   Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.
6.   Teapi  menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif. Mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup
7.   Tidak bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah
8.   Minim teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar