A Konsep Dasar
Client Centered Therapy
Konsep dasar dari
client-centered therapy adalah bahwa inidividu memiliki kecenderungan untuk
mengakutalisasikan diri (actualizing tendencies) yang berfungsi satu sama lain
dalam sebuah organisme. Para terapis lebih terfokus pada “potensi apa yang
dapat dimanfaatkan”. Didalam terapi, terdapat dua kondisi inti: congruence dan
unconditional positive regard. Congruence merujuk pada bagaimana terapis dapat
mengasimilasikan dan menggiring pengalaman agar klien sadar dan memaknai
pengalaman tersebut. Unconditional positive regard adalah bagaimana terapis
dapat menerima klien apa adanya, di mana terapis membiarkan dan menerima apa
yang klien ucapkan, pikirkan, dan lakukan. Di samping itu , terdapat juga
sejumlah konsep dasar dari sisi klien, yakni self-concept, locus of evaluation,
dan experiencing Self concept merujuk pada bagaimana klien
memandang-memikirkan-menghargai diri sendiri. Locus of evaluation merujuk dari
sudut pandang mana klien menilai diri. Orang yang bermasalah akan terlalu
menilai diri mereka berdasar persepsi orang lain (eksternal). Experiencing,
adalah proses di mana klien mengubah pola pandangnya, dari yang kaku dan
terbatas menjadi lebih terbuka.
· Ada beberapa konsep-konsep kepribadian yang
dikemukakan Rogers, yaitu:
a. Pengalaman, yakni alam subjektif dari
individual, di mana hanya indidivu spesifik yang benar-benar memahami alam
subjektif dirinya sendiri;
b. Realitas, yaitu persepsi individual
terhadap lingkungan sekitarnya yang subjektif, di mana perubahan terhadap
persepsi akan memengaruhi pandangan individu terhadap dirinya;
c. Kecenderungan individu untuk bereaksi
sebagai keseluruhan yang beraturan (organized whole), di mana individu
cenderung bereaksi terhadap apa yang penting bagi mereka (skala prioritas);
d. Kecenderungan individu untuk melakukan
aktualisasi, di mana individu pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk
menunjukkan potensi diri mereka, bahkan meskipun apa yang mereka lakukan (dan
pikirkan) irasional;
e. Kerangka acuan internal yakni bagaimana
individu memandang dunia dengan cara unik mereka sendiri;
f. Self atau diri, yakni bagaimana individu
memandang secara keseluruhan hubungan
aku (I) dan diriku (me), dan bagaimana hubungan keduanya dengan
lingkungan;
g. Simbolisasi, di mana individu menjadi
sadar dengan pengalamannya, dan simbolisasi itu seringkali muncul secara
konsisten dengan konsep diri;
h. Penyesuaian psikologis, di mana
keberadaan congruence antara konsep diri dan persepsi individu akan menjadikan
individu dapat melakukan penyesuaian psikologis (dan sebaliknya);
i. Proses penilaian organis, di mana
individu membuat penilaian pribadi berdasarkan nilai yang dianutnya; dan
j. Orang yang berfungsi sepenuhnya, di
mana orang-orang seperti ini adalah mereka yang mampu merasakan pengalamannya,
terbuka terhadap pengalaman, dan tidak takut akan apa yang mereka sedang dan
mungkin alami.
B. Pandangan Terhadap Manusia
Carl Rogers
memandang manusia, dalam hal ini klien, dengan berorientasi kepada filsafat
humanistik, yaitu
1. Inti sifat manusia adalah positif,
sosial, menuju ke muka, dan realistik. Yang berarti pada dasarnya manusia itu
bersifat positif, rasional, sosial, bergerak maju, dan realistik.tingkah laku
manusia diorganisir secara keseluruhan di sekitar tendensi, dan polanya
ditentukan oleh kemampuan untuk membedakan antara respon yang efektif
(menghasilkan rasa senang) dan respon yang tidak efektif (menimbulkan rasa
tidak senang).
2. Manusia pada dasarnya adalah kooperatif,
konstruktif dan dapat dipercaya.
3. Manusia memiliki tendensi dan usaha dasar
untuk mengaktualisasi pribadi, berprestasi, dan mempertahankan diri.
4. Manusia memiliki kemampuan dasar untuk
memilih tujuan yang benar, dan membuat pilihan yang benar, apabila ia diberi
situasi yang bebas dari ancama. (Sukardi, 1984)
C. Hakikat Manusia Menurut Pandangan Carl
Rogers
1. Hakikat manusia pada dasarnya baik dan
penuh dengan ke positifan.
2. Manusia mempunyai kemampuan untuk
membimbing, mengatur dan mengontrol dirinya sendiri.
3. Setiap individu pada dirinya terkandung
hati penggerak yakni terbuka terhadap pengalaman sendiri, hidup berdasarkan
pada kenyataan serta percaya pada diri sendiri.
4. Setiap individu mempunyai kemampuan untuk
beradaptasi dan menyesuaikan diri, serta mempunyai dorongan yang kuat kearah
kedewasaan dan kemerdekaan.
D. Hubungan Antara Terapi Dan Klien
Client-centered
therapy(CCT) menekankan pada sikap dan kepercayaan dalam proses terapi antara
terapis dengan klien. Efektifitas dari pendekatan terapi ini adalah pada sifat
kehangatan, ketulusan, penerimaan nonposesif dan empati yang akurat.
Client-centered therapy beranggapan bahwa klien sanggup menentukan dan
menjernihkan tujuan-tujuannya sendiri. Perlu adanya respek terhadap klien dan
keberanian pada seorang terapis untuk mendorong klien agar bersedia
mendengarkan dirinya sendiri dan mengikuti arah-arahannya sendiri terutama pada
saat klien membuat pilihan-pilihan yang bukan merupakan pilihan yang diharapkan
terapis. CCT membangun hubungan yang membantu, dimana klien akan mengalami
kebebasan untuk mengeksplorasi area-area kehidupannya yang sekarang diingkari atau
didistorsinya. Dalam Suasana ini klien merupakan narator aktif yang membangun
terapi secara interaktif dan sinergis untuk perubahan yang positif. CCT
cenderung spontan dan responsif terhadap permintaan klien bila memungkinkan.
Seperti permintaan untuk mengubah jadwal terapi dan membuat panggilan telepon
pada terapis.
Contoh-contoh dalam
3 macam formulasi kualitas terapis Rogers; yaitucongruence, ketika seorang
klien mengatakan keengganannya mengunjungi terapi karena baginya membuang-buang
waktu sang terapis. Maka sikap terapis yang ditunjukkan bahwa bagi sang terapis
hal ini tidak akan mebuang-buang waktunya dan mengungkapkan bahwa terapi ingin
bertemu dengan klien dilain waktu lagi jika terapis bersedia; unconditional
positive regard, ketika terapis mengatakan bahwa masalahnya tidak akan berhasil
diselesaikan maka terapis dapat bersikap dengan memberikan percayaan pada klien
bahwa ia dapat menyelesaikan masalahnya dan terapis akan menerima klien apabila
ia bersedia dating kembali; dan empathic understanding of the client’s internal
frame of reference, saat klien menceritakan suatu kejadian, maka terapis
mencoba memahami situasi saat itu yang terjadi pada klien dan mencoba
mendapatkan tanggapan kembali dari klien dengan lebih banyak informasi.
E. Teknik Konseling
Adapun teknik
konseling yang digunakan dalam clien center therapy adalah sebagai berikut:
1. Aceptance (penerimaan)
2. Respect (rasa hormat)
3. Understanding (mengerti, memahami)
4. Reassurance (menentramkan hati, meyakini)
5. Encouragement (dorongan)
6. Limited Questioning (pertanyaan terbatas)
7. Reflection (memantulkan pertanyaan dan
perasaan)
F. Tujuan Konseling
Pada dasarnya klien
sendiri menentukan tujuan konseling, konselor hanya membantu klien menjadi
lebih matang dan kembali melakukan aktualisasi diri dengan menghilangkan
hambatan-hambatannya. Namun secara lebih khusus membebaskan klien dari
kungkungan tingkah laku (yang dipelajarinya) selama ini, yang semuanya itu
membuat dirinya palsu dan terganggu dalam aktualisasi dirinya.
Tujuan Konseling
adalah menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling
sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk
self-exploration, dapat menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan.
Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih
besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan
lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal
untuk apa ia perlu menjadi.
G. Fungsi dan Peran Terapis
Fungsi terapis
adalah membangun suatu iklim terapeutik yang menunjang pertumbuhan
klien..terapis tidak dibatasi dalam bentuk bantuan yang dapat diberikan kepada
klien bahwa klien-terapis berpusat dapat berfungsi sebagai sumber informasi
tentang terapi lain atau perawatan dan sebagai orang yang membantu klien
memanfaatkan terapi atau perawatan yang diberikan oleh orang lain Kadang-kadang
membantu klien memanfaatkan terapi lain berarti meminimalkan kerusakan mereka
ke klien yang terjadi seperti yang menguntungkan dia. Sampai pembantu lain,
dokter, terapis psikologis dan perilaku, psychopharmacologists, dll, adalah,
diri mereka sendiri, orang-berpusat tetap kasus bahwa banyak dari ahli
melanggar hal-sendiri atau otonomi pasien dan klien mereka.
Terapi berpusat pada
klien tidak menciptakan sebuah lingkungan di mana terapis akan memberitahu
pasien apa yang dia harus berpikir atau lakukan. Alih-alih memberikan jawaban atau
solusi untuk pasien, peran terapis adalah membantu pasien dalam menemukan
jawaban sendiri. Proses, sementara kadang-kadang lambat dan tidak praktis,
memiliki manfaat membantu pasien mengembangkan keyakinan pada kemampuannya
untuk menghadapi situasi kehidupan, memeriksa mereka, dan akhirnya menemukan
cara untuk secara efektif menangani mereka.
Terapis berfugsi
terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi seseorang dengan jalan
membantunya dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah.
Pendekatan person centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan
seseorang untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.
Peran terapis client
centered berakar pada cara-cara keberadaanya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan
teknik-teknik yang dirancang untuk menjadikan client ‘berbuat sesuatu’. Terapis
client centered membangun hubungan yang membantu dimana client akan mengalami
kebebasan yang diperlukan untuk mengeksplorasikan area-area hidupnya yang
sekarang didistrosinya. Client menjadi kurang defensive dan menjadi lebih
terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada didalam dirinya maupun dalam
dunia. Yang utama dan terutama, terapis harus bersedia menjadi nyata dalam
hubungan dengan client. Terapis menghadapi
client berlandaskan pengalaman dari saat kesaat dam membantu client dengan
jalan memasuki dunianya, melalui perhatian yang tulus, respek, penerimaan, dan
pengertian terapis, sehingga client bisa menghilangkan pertahanan-pertahanan
dan persepsi-persepsinya yang kaku serta bergerak menuju taraf fungsi pribadi
yang lebih tinggi.
H. Kelemahan dan kelebihan client centered
therapy
a. Kelebihan pendekatan client centered
therapy
1. Pemusatan pada klien dan bukan pada
therapist
2. Identifikasi dan hubungan terapi sebagai
wahana utama dalam mengubah kepribadian.
3. Lebih menekankan pada sikap terapi
daripada teknik.
4. Memberikan kemungkinan untuk melakukan
penelitian dan penemuan kuantitatif.
5. Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan
afektif dalam terapi
6. Menawarkan perspektyif yang lebih
up-to-date dan optimis
7. Klien memiliki pengalaman positif dalam
terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya
8. Klien merasa mereka dapat mengekpresikan
dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi
b. Kekurangan Pendekatan client centered
therapy
1. Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu
sederhana
2. Terlalu menekankan aspek afektif, emosional,
perasaan
3. Tujuan untuk setiap klien yaitu
memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai
individu.
4. Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama
yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya.
5. Sulit bagi therapist untuk bersifat netral
dalam situasi hubungan interpersonal.
6. Teapi
menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif.
Mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup
7. Tidak bisa digunakan pada penderita
psikopatology yang parah
8. Minim teknik untuk membantu klien memecahkan
masalahnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar