Di era jaman sekarang ini bisnis yang sedang menjadi trend adalah bisnis
kreatif dan bagaimana menykapi sebuah masalah dengan kreatif. Kreatifitas
dalam hal berfikir, menciptakan karya dan memecahkan masalah sangat diperlukan
dalam menjalani hidup ini. Berikut adalah paparan bagaimana kita dapat
membangun kreatifitas di lingkungan keluarga kita.
8 LANGKAH MEMBANGUN KREATIVITAS ANAK
Anak kreatif itu bagus. Namun, tak segampang itu
mencetaknya. Ada kiat-kiat yang harus Anda ikuti. Apa saja?
Memiliki anak yang kreatif adalah dambaan setiap orangtua. Masalahnya,
kreativitas bukan anugerah yang diberikan Tuhan dalam bentuk jadi, melainkan
butuh proses untuk mendapatkannya. Proses ini tentu butuh campur tangan
orangtua sebagai konseptor, yang berperan penting dalam menentukan
hitam-putihnya masa depan anak.
Sebagai konseptor yang ingin membangun suatu kepribadian, orangtua perlu
menyadari bahwa, pribadi yang kreatif adalah pribadi yang mendekati
kesempurnaan. Dengan kata lain, pribadi yang kompleks, yang memahami keberadaan
diri sendiri serta lingkungannya.
Karena itu, menciptakan anak yang kreatif tidak semudah membalik telapak
tangan. Butuh upaya keras, berkesinambungan, serta kesabaran esktra untuk
melalui tahap demi tahap, sesuai perkembangan kemampuan berfikir anak. Beberapa
langkah yang bisa dilakukan untuk membangun kreativitas anak, di antaranya
adalah:
1. Memilihkan sarana bermain yang sesuai
Pada dasarnya, anak memiliki energi yang berlebih. Bermain merupakan penyaluran
terbaik untuk membuang surplus energi mereka itu. Dengan bermain, selain
memperoleh kegembiraan, kenikmatan, dan kepuasan, anak juga akan mendapatkan
manfaatnya, seperti bertumbuhnya segi fisik-motorik,
mental-intelektual/kognitif, sosial, moral, emosional, dan tentunya
kreativitas. Dengan bermain, anak sekaligus belajar tentang konsep bentuk,
ukuran, warna, jumlah, dan kegunaan objek.
Begitu pentingnya arti bermain bagi anak, sehingga dalam buku-buku psikologi
perkembangan, bermain dipandang sebagai unsur penting dalam perkembangan
seluruh unsur kepribadian anak. Karena itu, orangtua sedapat mungkin
menyediakan sarana dan alat bermain (toys) yang dapat merangsang kreativitas
anak. Tentu saja, sarana dan alat bermain ini harus sesuai dengan kemampuan
berpikir dan daya interaksi anak.
2. Kenalkan dengan lingkungan Sosial
Pengenalan terhadap lingkungan sosial akan memberikan bekal empiris kepada anak
yang kelak bermasyarakat dalam alam pergaulan dewasa. Anak dilatih mengerti
fungsi berbagi diri, pada saat yang sama seorang anak, selain menjadi dirinya
sendiri, juga merupakan bagian yang organis dari sebuah kelompok, komunitas.
Dalam hal ini, anak berkembang menjadi dirinya sendiri, sekaligus berkenalan
dengan aturan main, dengan norma, sehingga dia dapat bergaul dengan wajar.
3. Ajak berhubungan dengan alam
Mengajak anak berhubungan dengan alam tidak sebatas mengenalkan mereka dengan
nama-nama benda yang ada di sekitarnya, melainkan juga merangsang imajinasi
anak untuk dapat memanfaatkan benda-benda tersebut, walaupun pemanfaatannya
untuk hal-hal yang sederhana. Misalnya, memanfaatkan benda yang ada di
sekitarnya untuk dibuat mainan. Pemanfaatan bahan mentah sehingga menjadi
bentuk jadi ini akan membuka kesadaran anak akan perlunya berkreasi dengan
alam.
Selain itu, beri kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan alam. Sekali
waktu, biarkan anak berjalan telanjang kaki di atas tanah, dan jangan terlalu
memaksa mereka untuk selalu mengenakan sandal atau sepatu. Agar mereka dapat
merasakan sakitnya menginjak kerikil, atau merasakan lembutnya rerumputan yang
menggesek kulit kaki. Ini akan membuat anak dapat merasakan berbagai hal, serta
menjadikan mereka tidak manja dan mudah mengeluh.
4. Jangan asal melarang
Seringkali, cara pandang terhadap suatu masalah antara orang dewasa dengan
anak-anak berbeda. Sesuatu yang menurut anak-anak baik untuk dikerjakan, bisa
jadi sebaliknya di mata orang dewasa. Untuk itu, selami pikiran anak-anak,
pahami maksud dari apa yang dia kerjakan, dan jangan asal melarang.
Bila kita terpaksa melarang apa yang sedang dikerjakan anak-anak, seperti
mencoret-coret dinding, atau merusakkan barang-barang, usahakan tidak melarang
secara tegas. Beri dia pengertian dengan kalimat yang mendidik dan dapat
dipahami oleh anak. Usahakan untuk memberi pengertian kepada anak bahwa Anda
sebenarnya cukup menghargai proses kreatif yang dia kerjakan. Selama ini yang
sering terjadi, anak dilarang mengerjakan segala sesuatu tanpa penjelasan yang
memadai, padahal penjelasan sangat perlu untuk tidak memastikan kreativitas
anak.
5. Beri kebebasan dan keamanan psikologis
Kreativitas anak dapat tumbuh pesat apabila mendapat kebebasan dan keamanan
psikologis dalam berkreativitas. Kebebasan dan keamanan psikologis yang
dimaksud adalah, anak bebas mengerjakan segala sesuatu tanpa tekanan/paksaan
serta larangan dari lingkungan terutama dari orang tua. Anak dibebaskan
mengerjakan apa saja. Tugas orangtua hanya sebatas memberi pengarahan, tanpa
melakukan paksaan. Bila kebebasan beraktivitas didapatkan, secara psikologis
anak akan merasa aman untuk berkreasi, tanpa merasa takut dikecam, disalahkan,
atau dimarahi.
6. Hargai usahanya
Jangan sekali-kali menyepelekan kerja dan usaha anak. Sekecil apapun,
hargailah. Menghargai usaha anak memungkinkan anak bisa menghargai barang, dan
bukan harga barang itu. Penghargaan yang diberikan akan menciptakan iklim sehat
dalam batin anak. Anak akan merasa bahwa kehadirannya diterima, diperhatikan,
dan diakui. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri yang besar pada diri
anak.
7. Libatkan dalam aktifitas Anda
Sekali waktu, libatkan anak dalam aktivitas yang Anda kerjakan. Misalnya,
menyuruh anak membubuhkan garam pada masakan, memberikan sisa-sisa potongan
sayuran yang Anda masak, dan membiarkan dia sibuk berimajinasi dengan
masakannya sendiri yang berbahan sisa-sisa masakan Anda. Bisa juga dengan
mengajaknya membetulkan kursi, sepeda, atau perabot rumah-tangga yang rusak,
menyulam, merangkai bunga, atau membuat sesuatu dari bahan bekas hingga menjadi
berguna.
Cara ini akan menyuburkan kegairahan anak dengan pengetahuan yang dia miliki.
Anda juga bisa menanamkan pengetahuan, memberikan pelajaran dengan cara yang
menyenangkan. Dan yang terpenting, anak akan termotivasi dengan contoh-contoh
yang Anda berikan.
8. Ciptakan komunikasi yang sehat
Komunikasi yang sehat adalah terjalinnya dialog akrab dua arah, antara orang
tua dan anak, dalam level pengetahuan anak, tentang berbagai hal yang telah
dimengerti anak, atau tentang hal yang semestinya diketahui anak. Komunikasi
yang sehat akan menciptakan kedekatan antara orangtua dan anak, baik secara
fisik maupun psikis. Kedekatan inilah yang melahirkan kebersamaan dan kehangatan
hubungan yang merupakan gizi bagi jiwa anak.
Bila komunikasi dua arah terjalin baik, anak tak akan ragu dan takut
mengungkapkan isi hati, pikiran, keinginan, dan maksud yang merupakan
pengejawantahan dari kreativitas yang terselubung. Orangtua pun akan dapat
mengerti dan memahami kehendak anak, sehingga dapat mewujudkan sarana dan
fasilitas yang dibutuhkan untuk mewadahi kreativitas anak.
Minggu, 27 April 2014
Jumat, 11 April 2014
ilmu alamiah dasar
BAB 1
1.1
PENGERTIAN ILMU ALAMIAH DASAR
Ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science),
merupakan pengetahuan yang mengkaji mengenai gejala-gejala dalam alam semesta,
termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. Ilmu Alamiah
Dasar hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang essensial
saja.
Pada pembahasan kali ini kami akan membahas Ilmu Alamiah Dasar secara lebih
spesisfik lagi, yaitu pembahasan mengenai Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi.
Seseorang menggunakan teknologi karena ia memiliki akal. Dengan akalnya ia
ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman, mudah, nyaman
dan sebagainya. Perkembangan teknologi terjadi karena seseorang menggunakan
akalnya dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.
Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup
besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat-perangakat mesin,
seperti computer, kendaraan, handphone, dan lain sebagainnya
PERKEMBANGAN SIFAT DAN PEMIKIRAN MANUSIA
Sifat ingin
tahu manusia berkembang seiring dengan perkembangan umur dan waktu dimana manusia
tersebut hidup. Pada zaman pra sejarah manusia hidup dari berburu dan berladang
yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, kemudian meningkat menjadi petani
dan peternak yang menetap.Ada dua macam perkembangan alam pikiran manusia,
yakni perkembangan alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya
dan perkembangan alam pikiran manusia, sejak zaman purba hingga dewasa
ini.Berikut ini,pengelompokan perkembangan kecerdasan manusia berdasarkan usia
dari bayi hingga dewasa.
1.Masa bayi
(0 – 2 Tahun)
Masa bayi
menurut psikologi disebut juga sebagai periode sensomotorik.Pada periode
ini,perkembangan kecerdasan bayi sangat cepat.Ia mulai belajar makan,berjalan,berbicara,dan
mengikatkan diri pada orang lain.Dengan gerakan – gerakan anggota tubuhnya,ia
belajar memadukan keterangan – keterangan melalui semua alat inderanya.
2. Masa
Kanak – kanak ( 3 – 5 Tahun )
Masa kanak –
kanak disebut sebagai periode praoperasional,dengan kisaran usia 2 – 7
tahun.Pada periode ini,dorongan keingintahuannya sangat besar,sehingga banyak
yang menyebut masa ini sebagai masa bertanya.Apalagi pada masa ini si anak
sudah memiliki keterampilan berbahasa lisan.Namun,pada masa ini pengungkapannya
sering menggunakan lambang – lambang,seperti bermain mobil dengan garasinya
menggunakan kotak kosong.
3.Masa Usia
Sekolah ( 6 – 12 Tahun )
Masa ini
disebut juga sebagai periode operasional nyata,dengan kisaran usia 7-11
tahun.Pada periode ini,anak sangat aktif,ditandai dengan perkembangan fisik,
dan motorik yang baik.Para ahli psikologi menyebut juga masa ini sebagai “ masa
tenang”,karena proses perkembangan emosional si anak telah mendapatkan kepuasan
maksimal sesuai dengan kemampuan individu.Perolehan pengetahuannya masih dengan
induksi (pengamatan dan percobaan),walaupun sudah dimulai dengan menggunakan
penalaran dan logika.
4.Masa
Remaja ( 13 – 20 Tahun )
Masa remaja
disebut juga periode operasional formal ( 11 – 15 tahun).Periode ini merupakan
masa pertentangan (konflik),baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang
dewasa.Mereka berusaha mengekspresikan dirinya sebagai orang dewasa,padahal
secara fisik,mental,dan emosional belum mampu menggunakan nalar serta
berhipotesis.
5.Masa dewasa
( > 20 Tahun )
Masa dewasa
ini ditandai dengan kemampuan individu untuk berdiri sendiri.Mereka mampu
mengendalikan perilakunya dengan baik,menempatkan dirinya sebagai anggota dalam
kelompok serta merupakan individu yang bertanggung jawab.
3.3 MITOS PENALARAN DAN CARA MEMPEROLEH
PENGETAHUAN
Mitos adalah
sebuah imajinasi dari manusia yang berusaha untuk menerangkan gejala alam yang
ada pada saat itu yang dikaitkan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan ghaib.
Namun, disebabkan oleh keterbatasan manusia dalam menjelaskan hal tersebut
sehingga cenderung diidentikkan dengan seorang dewa/dewi, tokoh misteri serta
sesuatu yang berbau mistis. Sehingga pengetahuan yang diperoleh bersifat
subyektif.
Rasa ingin
tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan
ataupun pengalaman. Untuk itulah, manusia mereka-reka sendiri jawaban atas
keingintahuannya itu. Sebagai contoh: “Apakah pelangi itu?”, karena tak dapat
dijawab, manusia mereka-reka jawaban bahwa pelangi adalah selendang bidadari.
Jadi muncul pengetahuan baru yaitu bidadari. Contoh lain: “Mengapa gunung
meletus?”, karena tak tahu jawabannya, manusia mereka-reka sendiri dengan
jawaban: “Yang berkuasa dari gunung itu sedang marah”. Dengan menggunakan jalan
pemikiran yang sama muncullah anggapan adanya “Yang kuasa” di dalam hutan
lebat, sungai yang besar, pohon yang besar, matahari, bulan, atau adanya
raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana bulan. Pengetahuan baru yang
bermunculan dan kepercayaan itulah yang kita sebut dengan mitos. Cerita yang
berdasarkan atas mitos disebut legenda.
PENALARAN
Penalaran
terbagi menjadi dua yaitu :
1. Penalaran
Deduktif yaitu cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang
bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dan menggunakan
pola berpikir silogisme.
2. Penalaran
Induktif yaitu cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang
bersifat khusus untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dan terkait
dengan pengetahuan empirisme.
CARA
MEMPEROLEH PENGETAHUAN
Menurut Charles Price ada 4 macam cara untuk memperoleh pengetahuan
yaitu:
1. Percaya
Seseorang akan mendapat pengatahuan karena ia percaya pada hal tersebut adalah benar.
Seseorang akan mendapat pengatahuan karena ia percaya pada hal tersebut adalah benar.
2. Wibawa
Sesuatu akan dianggap benar,apa bila seseorang yg berwibawa menyatakan benar
Sesuatu akan dianggap benar,apa bila seseorang yg berwibawa menyatakan benar
3. Apriori
Merupakan suatu keyakinan/pendirian/anggapan sebelum mengetahuai (melihat,mendengar,menyelidiki) keadaan tertentu.
Merupakan suatu keyakinan/pendirian/anggapan sebelum mengetahuai (melihat,mendengar,menyelidiki) keadaan tertentu.
4. Metode Ilmiah
Seseuatu dianggap ilmiah apa bila memiliki patokan yg merupakan rambu2 untuk menentukan benar atau salah.
Seseuatu dianggap ilmiah apa bila memiliki patokan yg merupakan rambu2 untuk menentukan benar atau salah.
Ilmu pengetahuan dianggap Alamiah apabila memenuhi 4 syarat yaitu:
· Objektif
Pengetahuan itu sesuai dengan Objek
Pengetahuan itu sesuai dengan Objek
· Metodik
Pengetahuan itu diperoleh dengan cara2 tertentu dan terkontrol
Pengetahuan itu diperoleh dengan cara2 tertentu dan terkontrol
· Sistematis
Pengetahuan ilmiah itu tersusundalam suatu system, tidak berdiri sendiri satu sama lain saling berkaitan ,saling menjelaskan,sehingga keseluruhan menjadi kesatuan yg utuh.
Pengetahuan ilmiah itu tersusundalam suatu system, tidak berdiri sendiri satu sama lain saling berkaitan ,saling menjelaskan,sehingga keseluruhan menjadi kesatuan yg utuh.
· Berlaku Umum/
Universal
Pengetahuan tidak hanya diamati hanya oleh seseorang atau oleh beberapa orang saja ,tapi semua org dengan eksperimentasi yg sama akan menghasilkan sesuatu yg sama atau konsisten.
Pengetahuan tidak hanya diamati hanya oleh seseorang atau oleh beberapa orang saja ,tapi semua org dengan eksperimentasi yg sama akan menghasilkan sesuatu yg sama atau konsisten.
BAB 2
METODE
ILMIAH
1. Penelitian IlmiahMenggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah/meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar/tinggi-rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu:
a. Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti.
b. Kemampuan untuk meramalkan: sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat/waktu lain;
2. Penelitian non ilmiah
a. Berdasarkan Spesialisasi Bidang (ilmu) garapannya : Sebagian penelitian yang non ilmiah didapati pada bidang garapan sebagai berikut :
1. Bisnis (Akunting, Keuangan, Manajemen Pemasaran)
2. Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan / PR, Periklanan)
3. Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional)
4. Pertanian (agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman)
5. Teknik, Ekonomi (Mikro, Makro, Pembangunan), dll.
b. Berdasarkan dari hadirnya variabel (ubahan) :
variabel adalah hal yang menjadi objek penelitian, yang ditatap, yang menunjukkan variasi baik kuantitatif maupun kualitatif. Variabel : masa lalu, sekarang, akan datang.
Penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan/ menggambar-kan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi) adalah penelitian deskriptif ( to describe = membeberkan/ menggambarkan). Penelitian dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen.
2.2 LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL
Perumusan masalah : yang dimaksud dengan masalah disini adalah merupakan pertanyaan apa,mengapa,ataupun bagaimana tentang objek yang diteliti;
Penyusunan hipotesis:yang dimaksud dengan hipotesis adalah suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang di tetapkan. Dengan kata lain hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja di dukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis juga dapat di pandang sebagai jawaban sementara dari permasalahan yang harus di uji kebenarannya dalam suatu observasi atau ekperimentasi.
Pengujian hipotesis: yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah di ajukan untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. fakta-fakta ini dapat di peroleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau teleskop atau dapat juga melalui uji coba atau ekperimentasi. kemudian fakta-fakta itu dikumpulkan melalui pengindraan.
Penarikan kesimpulan : Penarikan kesimpilan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta-fakta. Untuk melihat untuk apakah hipotesis yang di ajukan itu di terima atau tidak. Hipotesis itu dapat diterima apa bila fakta-fakta yang terkumpul itu mendukung pernyataan hipotesis. Bila fakta-fakta tidak mendukung maka hipotesis itu di tolak. Hipotesis yang diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah dan merupkan bagian dari ilmu pengetahuan
Perumusan masalah : yang dimaksud dengan masalah disini adalah merupakan pertanyaan apa,mengapa,ataupun bagaimana tentang objek yang diteliti;
Penyusunan hipotesis:yang dimaksud dengan hipotesis adalah suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang di tetapkan. Dengan kata lain hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja di dukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis juga dapat di pandang sebagai jawaban sementara dari permasalahan yang harus di uji kebenarannya dalam suatu observasi atau ekperimentasi.
Pengujian hipotesis: yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah di ajukan untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. fakta-fakta ini dapat di peroleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau teleskop atau dapat juga melalui uji coba atau ekperimentasi. kemudian fakta-fakta itu dikumpulkan melalui pengindraan.
Penarikan kesimpulan : Penarikan kesimpilan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta-fakta. Untuk melihat untuk apakah hipotesis yang di ajukan itu di terima atau tidak. Hipotesis itu dapat diterima apa bila fakta-fakta yang terkumpul itu mendukung pernyataan hipotesis. Bila fakta-fakta tidak mendukung maka hipotesis itu di tolak. Hipotesis yang diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah dan merupkan bagian dari ilmu pengetahuan
2.3 KEUNGGULAN
DAN LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL METODE ILMIAH
Perumusan masalah : yang dimaksud dengan masalah disini adalah merupakan pertanyaan apa,mengapa,ataupun bagaimana tentang objek yang diteliti;
Penyusunan hipotesis:yang dimaksud dengan hipotesis adalah suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang di tetapkan. Dengan kata lain hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja di dukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis juga dapat di pandang sebagai jawaban sementara dari permasalahan yang harus di uji kebenarannya dalam suatu observasi atau ekperimentasi.
Pengujian hipotesis: yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah di ajukan untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. fakta-fakta ini dapat di peroleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau teleskop atau dapat juga melalui uji coba atau ekperimentasi. kemudian fakta-fakta itu dikumpulkan melalui pengindraan.
Penarikan kesimpulan : Penarikan kesimpilan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta-fakta. Untuk melihat untuk apakah hipotesis yang di ajukan itu di terima atau tidak. Hipotesis itu dapat diterima apa bila fakta-fakta yang terkumpul itu mendukung pernyataan hipotesis. Bila fakta-fakta tidak mendukung maka hipotesis itu di tolak. Hipotesis yang diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah dan merupkan bagian dari ilmu pengetahuan.
Perumusan masalah : yang dimaksud dengan masalah disini adalah merupakan pertanyaan apa,mengapa,ataupun bagaimana tentang objek yang diteliti;
Penyusunan hipotesis:yang dimaksud dengan hipotesis adalah suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang di tetapkan. Dengan kata lain hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja di dukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis juga dapat di pandang sebagai jawaban sementara dari permasalahan yang harus di uji kebenarannya dalam suatu observasi atau ekperimentasi.
Pengujian hipotesis: yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah di ajukan untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. fakta-fakta ini dapat di peroleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau teleskop atau dapat juga melalui uji coba atau ekperimentasi. kemudian fakta-fakta itu dikumpulkan melalui pengindraan.
Penarikan kesimpulan : Penarikan kesimpilan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta-fakta. Untuk melihat untuk apakah hipotesis yang di ajukan itu di terima atau tidak. Hipotesis itu dapat diterima apa bila fakta-fakta yang terkumpul itu mendukung pernyataan hipotesis. Bila fakta-fakta tidak mendukung maka hipotesis itu di tolak. Hipotesis yang diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah dan merupkan bagian dari ilmu pengetahuan.
B.KEUNGGULAN
Ciri ilmiah yaitu obyektif, metodik, sistimatik dan berlaku umum olehkarena
itu orang akan terbimbing sedemikian hingga padanyaterkembangkan suatu sikap
ilmiah.Sikap ilmiah yaitu :
1). Mencintai kebenaran yang obyektif, dan bersikap adil
2). Menyadari bahwa kebenaran ilmu tidak absolut
3). Tidak percaya pada takhyul, astrologi maupun untung-untungan.
Langganan:
Postingan (Atom)