Di era jaman sekarang ini bisnis yang sedang menjadi trend adalah bisnis
kreatif dan bagaimana menykapi sebuah masalah dengan kreatif. Kreatifitas
dalam hal berfikir, menciptakan karya dan memecahkan masalah sangat diperlukan
dalam menjalani hidup ini. Berikut adalah paparan bagaimana kita dapat
membangun kreatifitas di lingkungan keluarga kita.
8 LANGKAH MEMBANGUN KREATIVITAS ANAK
Anak kreatif itu bagus. Namun, tak segampang itu
mencetaknya. Ada kiat-kiat yang harus Anda ikuti. Apa saja?
Memiliki anak yang kreatif adalah dambaan setiap orangtua. Masalahnya,
kreativitas bukan anugerah yang diberikan Tuhan dalam bentuk jadi, melainkan
butuh proses untuk mendapatkannya. Proses ini tentu butuh campur tangan
orangtua sebagai konseptor, yang berperan penting dalam menentukan
hitam-putihnya masa depan anak.
Sebagai konseptor yang ingin membangun suatu kepribadian, orangtua perlu
menyadari bahwa, pribadi yang kreatif adalah pribadi yang mendekati
kesempurnaan. Dengan kata lain, pribadi yang kompleks, yang memahami keberadaan
diri sendiri serta lingkungannya.
Karena itu, menciptakan anak yang kreatif tidak semudah membalik telapak
tangan. Butuh upaya keras, berkesinambungan, serta kesabaran esktra untuk
melalui tahap demi tahap, sesuai perkembangan kemampuan berfikir anak. Beberapa
langkah yang bisa dilakukan untuk membangun kreativitas anak, di antaranya
adalah:
1. Memilihkan sarana bermain yang sesuai
Pada dasarnya, anak memiliki energi yang berlebih. Bermain merupakan penyaluran
terbaik untuk membuang surplus energi mereka itu. Dengan bermain, selain
memperoleh kegembiraan, kenikmatan, dan kepuasan, anak juga akan mendapatkan
manfaatnya, seperti bertumbuhnya segi fisik-motorik,
mental-intelektual/kognitif, sosial, moral, emosional, dan tentunya
kreativitas. Dengan bermain, anak sekaligus belajar tentang konsep bentuk,
ukuran, warna, jumlah, dan kegunaan objek.
Begitu pentingnya arti bermain bagi anak, sehingga dalam buku-buku psikologi
perkembangan, bermain dipandang sebagai unsur penting dalam perkembangan
seluruh unsur kepribadian anak. Karena itu, orangtua sedapat mungkin
menyediakan sarana dan alat bermain (toys) yang dapat merangsang kreativitas
anak. Tentu saja, sarana dan alat bermain ini harus sesuai dengan kemampuan
berpikir dan daya interaksi anak.
2. Kenalkan dengan lingkungan Sosial
Pengenalan terhadap lingkungan sosial akan memberikan bekal empiris kepada anak
yang kelak bermasyarakat dalam alam pergaulan dewasa. Anak dilatih mengerti
fungsi berbagi diri, pada saat yang sama seorang anak, selain menjadi dirinya
sendiri, juga merupakan bagian yang organis dari sebuah kelompok, komunitas.
Dalam hal ini, anak berkembang menjadi dirinya sendiri, sekaligus berkenalan
dengan aturan main, dengan norma, sehingga dia dapat bergaul dengan wajar.
3. Ajak berhubungan dengan alam
Mengajak anak berhubungan dengan alam tidak sebatas mengenalkan mereka dengan
nama-nama benda yang ada di sekitarnya, melainkan juga merangsang imajinasi
anak untuk dapat memanfaatkan benda-benda tersebut, walaupun pemanfaatannya
untuk hal-hal yang sederhana. Misalnya, memanfaatkan benda yang ada di
sekitarnya untuk dibuat mainan. Pemanfaatan bahan mentah sehingga menjadi
bentuk jadi ini akan membuka kesadaran anak akan perlunya berkreasi dengan
alam.
Selain itu, beri kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan alam. Sekali
waktu, biarkan anak berjalan telanjang kaki di atas tanah, dan jangan terlalu
memaksa mereka untuk selalu mengenakan sandal atau sepatu. Agar mereka dapat
merasakan sakitnya menginjak kerikil, atau merasakan lembutnya rerumputan yang
menggesek kulit kaki. Ini akan membuat anak dapat merasakan berbagai hal, serta
menjadikan mereka tidak manja dan mudah mengeluh.
4. Jangan asal melarang
Seringkali, cara pandang terhadap suatu masalah antara orang dewasa dengan
anak-anak berbeda. Sesuatu yang menurut anak-anak baik untuk dikerjakan, bisa
jadi sebaliknya di mata orang dewasa. Untuk itu, selami pikiran anak-anak,
pahami maksud dari apa yang dia kerjakan, dan jangan asal melarang.
Bila kita terpaksa melarang apa yang sedang dikerjakan anak-anak, seperti
mencoret-coret dinding, atau merusakkan barang-barang, usahakan tidak melarang
secara tegas. Beri dia pengertian dengan kalimat yang mendidik dan dapat
dipahami oleh anak. Usahakan untuk memberi pengertian kepada anak bahwa Anda
sebenarnya cukup menghargai proses kreatif yang dia kerjakan. Selama ini yang
sering terjadi, anak dilarang mengerjakan segala sesuatu tanpa penjelasan yang
memadai, padahal penjelasan sangat perlu untuk tidak memastikan kreativitas
anak.
5. Beri kebebasan dan keamanan psikologis
Kreativitas anak dapat tumbuh pesat apabila mendapat kebebasan dan keamanan
psikologis dalam berkreativitas. Kebebasan dan keamanan psikologis yang
dimaksud adalah, anak bebas mengerjakan segala sesuatu tanpa tekanan/paksaan
serta larangan dari lingkungan terutama dari orang tua. Anak dibebaskan
mengerjakan apa saja. Tugas orangtua hanya sebatas memberi pengarahan, tanpa
melakukan paksaan. Bila kebebasan beraktivitas didapatkan, secara psikologis
anak akan merasa aman untuk berkreasi, tanpa merasa takut dikecam, disalahkan,
atau dimarahi.
6. Hargai usahanya
Jangan sekali-kali menyepelekan kerja dan usaha anak. Sekecil apapun,
hargailah. Menghargai usaha anak memungkinkan anak bisa menghargai barang, dan
bukan harga barang itu. Penghargaan yang diberikan akan menciptakan iklim sehat
dalam batin anak. Anak akan merasa bahwa kehadirannya diterima, diperhatikan,
dan diakui. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri yang besar pada diri
anak.
7. Libatkan dalam aktifitas Anda
Sekali waktu, libatkan anak dalam aktivitas yang Anda kerjakan. Misalnya,
menyuruh anak membubuhkan garam pada masakan, memberikan sisa-sisa potongan
sayuran yang Anda masak, dan membiarkan dia sibuk berimajinasi dengan
masakannya sendiri yang berbahan sisa-sisa masakan Anda. Bisa juga dengan
mengajaknya membetulkan kursi, sepeda, atau perabot rumah-tangga yang rusak,
menyulam, merangkai bunga, atau membuat sesuatu dari bahan bekas hingga menjadi
berguna.
Cara ini akan menyuburkan kegairahan anak dengan pengetahuan yang dia miliki.
Anda juga bisa menanamkan pengetahuan, memberikan pelajaran dengan cara yang
menyenangkan. Dan yang terpenting, anak akan termotivasi dengan contoh-contoh
yang Anda berikan.
8. Ciptakan komunikasi yang sehat
Komunikasi yang sehat adalah terjalinnya dialog akrab dua arah, antara orang
tua dan anak, dalam level pengetahuan anak, tentang berbagai hal yang telah
dimengerti anak, atau tentang hal yang semestinya diketahui anak. Komunikasi
yang sehat akan menciptakan kedekatan antara orangtua dan anak, baik secara
fisik maupun psikis. Kedekatan inilah yang melahirkan kebersamaan dan kehangatan
hubungan yang merupakan gizi bagi jiwa anak.
Bila komunikasi dua arah terjalin baik, anak tak akan ragu dan takut
mengungkapkan isi hati, pikiran, keinginan, dan maksud yang merupakan
pengejawantahan dari kreativitas yang terselubung. Orangtua pun akan dapat
mengerti dan memahami kehendak anak, sehingga dapat mewujudkan sarana dan
fasilitas yang dibutuhkan untuk mewadahi kreativitas anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar