Rabu, 30 Maret 2016

Psikoterapi : Client Centered Therapy

A Konsep Dasar Client Centered Therapy

Konsep dasar dari client-centered therapy adalah bahwa inidividu memiliki kecenderungan untuk mengakutalisasikan diri (actualizing tendencies) yang berfungsi satu sama lain dalam sebuah organisme. Para terapis lebih terfokus pada “potensi apa yang dapat dimanfaatkan”. Didalam terapi, terdapat dua kondisi inti: congruence dan unconditional positive regard. Congruence merujuk pada bagaimana terapis dapat mengasimilasikan dan menggiring pengalaman agar klien sadar dan memaknai pengalaman tersebut. Unconditional positive regard adalah bagaimana terapis dapat menerima klien apa adanya, di mana terapis membiarkan dan menerima apa yang klien ucapkan, pikirkan, dan lakukan. Di samping itu , terdapat juga sejumlah konsep dasar dari sisi klien, yakni self-concept, locus of evaluation, dan experiencing Self concept merujuk pada bagaimana klien memandang-memikirkan-menghargai diri sendiri. Locus of evaluation merujuk dari sudut pandang mana klien menilai diri. Orang yang bermasalah akan terlalu menilai diri mereka berdasar persepsi orang lain (eksternal). Experiencing, adalah proses di mana klien mengubah pola pandangnya, dari yang kaku dan terbatas menjadi lebih terbuka.
·         Ada beberapa konsep-konsep kepribadian yang dikemukakan Rogers, yaitu:
a.       Pengalaman, yakni alam subjektif dari individual, di mana hanya indidivu spesifik yang benar-benar memahami alam subjektif dirinya sendiri;
b.      Realitas, yaitu persepsi individual terhadap lingkungan sekitarnya yang subjektif, di mana perubahan terhadap persepsi akan memengaruhi pandangan individu terhadap dirinya;
c.       Kecenderungan individu untuk bereaksi sebagai keseluruhan yang beraturan (organized whole), di mana individu cenderung bereaksi terhadap apa yang penting bagi mereka (skala prioritas);
d.      Kecenderungan individu untuk melakukan aktualisasi, di mana individu pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk menunjukkan potensi diri mereka, bahkan meskipun apa yang mereka lakukan (dan pikirkan) irasional;
e.       Kerangka acuan internal yakni bagaimana individu memandang dunia dengan cara unik mereka sendiri;
f.       Self atau diri, yakni bagaimana individu memandang secara keseluruhan hubungan  aku (I) dan diriku (me), dan bagaimana hubungan keduanya dengan lingkungan;
g.      Simbolisasi, di mana individu menjadi sadar dengan pengalamannya, dan simbolisasi itu seringkali muncul secara konsisten dengan konsep diri;
h.      Penyesuaian psikologis, di mana keberadaan congruence antara konsep diri dan persepsi individu akan menjadikan individu dapat melakukan penyesuaian psikologis (dan sebaliknya);
i.        Proses penilaian organis, di mana individu membuat penilaian pribadi berdasarkan nilai yang dianutnya; dan
j.        Orang yang berfungsi sepenuhnya, di mana orang-orang seperti ini adalah mereka yang mampu merasakan pengalamannya, terbuka terhadap pengalaman, dan tidak takut akan apa yang mereka sedang dan mungkin alami.

B.     Pandangan Terhadap Manusia
Carl Rogers memandang manusia, dalam hal ini klien, dengan berorientasi kepada filsafat humanistik, yaitu
1.      Inti sifat manusia adalah positif, sosial, menuju ke muka, dan realistik. Yang berarti pada dasarnya manusia itu bersifat positif, rasional, sosial, bergerak maju, dan realistik.tingkah laku manusia diorganisir secara keseluruhan di sekitar tendensi, dan polanya ditentukan oleh kemampuan untuk membedakan antara respon yang efektif (menghasilkan rasa senang) dan respon yang tidak efektif (menimbulkan rasa tidak senang).
2.      Manusia pada dasarnya adalah kooperatif, konstruktif dan dapat dipercaya.
3.      Manusia memiliki tendensi dan usaha dasar untuk mengaktualisasi pribadi, berprestasi, dan mempertahankan diri.
4.      Manusia memiliki kemampuan dasar untuk memilih tujuan yang benar, dan membuat pilihan yang benar, apabila ia diberi situasi yang bebas dari ancama. (Sukardi, 1984)

C.    Hakikat Manusia Menurut Pandangan Carl Rogers
1.      Hakikat manusia pada dasarnya baik dan penuh dengan ke positifan.
2.      Manusia mempunyai kemampuan untuk membimbing, mengatur dan mengontrol dirinya sendiri.
3.      Setiap individu pada dirinya terkandung hati penggerak yakni terbuka terhadap pengalaman sendiri, hidup berdasarkan pada kenyataan serta percaya pada diri sendiri.
4.      Setiap individu mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri, serta mempunyai dorongan yang kuat kearah kedewasaan dan kemerdekaan.

D.    Hubungan Antara Terapi Dan Klien
Client-centered therapy(CCT) menekankan pada sikap dan kepercayaan dalam proses terapi antara terapis dengan klien. Efektifitas dari pendekatan terapi ini adalah pada sifat kehangatan, ketulusan, penerimaan nonposesif dan empati yang akurat. Client-centered therapy beranggapan bahwa klien sanggup menentukan dan menjernihkan tujuan-tujuannya sendiri. Perlu adanya respek terhadap klien dan keberanian pada seorang terapis untuk mendorong klien agar bersedia mendengarkan dirinya sendiri dan mengikuti arah-arahannya sendiri terutama pada saat klien membuat pilihan-pilihan yang bukan merupakan pilihan yang diharapkan terapis. CCT membangun hubungan yang membantu, dimana klien akan mengalami kebebasan untuk mengeksplorasi area-area kehidupannya yang sekarang diingkari atau didistorsinya. Dalam Suasana ini klien merupakan narator aktif yang membangun terapi secara interaktif dan sinergis untuk perubahan yang positif. CCT cenderung spontan dan responsif terhadap permintaan klien bila memungkinkan. Seperti permintaan untuk mengubah jadwal terapi dan membuat panggilan telepon pada terapis.
Contoh-contoh dalam 3 macam formulasi kualitas terapis Rogers; yaitucongruence, ketika seorang klien mengatakan keengganannya mengunjungi terapi karena baginya membuang-buang waktu sang terapis. Maka sikap terapis yang ditunjukkan bahwa bagi sang terapis hal ini tidak akan mebuang-buang waktunya dan mengungkapkan bahwa terapi ingin bertemu dengan klien dilain waktu lagi jika terapis bersedia; unconditional positive regard, ketika terapis mengatakan bahwa masalahnya tidak akan berhasil diselesaikan maka terapis dapat bersikap dengan memberikan percayaan pada klien bahwa ia dapat menyelesaikan masalahnya dan terapis akan menerima klien apabila ia bersedia dating kembali; dan empathic understanding of the client’s internal frame of reference, saat klien menceritakan suatu kejadian, maka terapis mencoba memahami situasi saat itu yang terjadi pada klien dan mencoba mendapatkan tanggapan kembali dari klien dengan lebih banyak informasi.

E.     Teknik Konseling
Adapun teknik konseling yang digunakan dalam clien center therapy adalah sebagai berikut:
1.      Aceptance (penerimaan)
2.      Respect (rasa hormat)
3.      Understanding (mengerti, memahami)
4.      Reassurance (menentramkan hati, meyakini)
5.      Encouragement (dorongan)
6.      Limited Questioning (pertanyaan terbatas)
7.      Reflection (memantulkan pertanyaan dan perasaan)

F.     Tujuan Konseling
Pada dasarnya klien sendiri menentukan tujuan konseling, konselor hanya membantu klien menjadi lebih matang dan kembali melakukan aktualisasi diri dengan menghilangkan hambatan-hambatannya. Namun secara lebih khusus membebaskan klien dari kungkungan tingkah laku (yang dipelajarinya) selama ini, yang semuanya itu membuat dirinya palsu dan terganggu dalam aktualisasi dirinya.
Tujuan Konseling adalah menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration, dapat menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan. Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk apa ia perlu menjadi.

G.    Fungsi dan Peran Terapis
Fungsi terapis adalah membangun suatu iklim terapeutik yang menunjang pertumbuhan klien..terapis tidak dibatasi dalam bentuk bantuan yang dapat diberikan kepada klien bahwa klien-terapis berpusat dapat berfungsi sebagai sumber informasi tentang terapi lain atau perawatan dan sebagai orang yang membantu klien memanfaatkan terapi atau perawatan yang diberikan oleh orang lain Kadang-kadang membantu klien memanfaatkan terapi lain berarti meminimalkan kerusakan mereka ke klien yang terjadi seperti yang menguntungkan dia. Sampai pembantu lain, dokter, terapis psikologis dan perilaku, psychopharmacologists, dll, adalah, diri mereka sendiri, orang-berpusat tetap kasus bahwa banyak dari ahli melanggar hal-sendiri atau otonomi pasien dan klien mereka.
Terapi berpusat pada klien tidak menciptakan sebuah lingkungan di mana terapis akan memberitahu pasien apa yang dia harus berpikir atau lakukan. Alih-alih memberikan jawaban atau solusi untuk pasien, peran terapis adalah membantu pasien dalam menemukan jawaban sendiri. Proses, sementara kadang-kadang lambat dan tidak praktis, memiliki manfaat membantu pasien mengembangkan keyakinan pada kemampuannya untuk menghadapi situasi kehidupan, memeriksa mereka, dan akhirnya menemukan cara untuk secara efektif menangani mereka.
Terapis berfugsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi seseorang dengan jalan membantunya dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan person centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan seseorang untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.
Peran terapis client centered berakar pada cara-cara keberadaanya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik-teknik yang dirancang untuk menjadikan client ‘berbuat sesuatu’. Terapis client centered membangun hubungan yang membantu dimana client akan mengalami kebebasan yang diperlukan untuk mengeksplorasikan area-area hidupnya yang sekarang didistrosinya. Client menjadi kurang defensive dan menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada didalam dirinya maupun dalam dunia. Yang utama dan terutama, terapis harus bersedia menjadi nyata dalam hubungan dengan client.  Terapis menghadapi client berlandaskan pengalaman dari saat kesaat dam membantu client dengan jalan memasuki dunianya, melalui perhatian yang tulus, respek, penerimaan, dan pengertian terapis, sehingga client bisa menghilangkan pertahanan-pertahanan dan persepsi-persepsinya yang kaku serta bergerak menuju taraf fungsi pribadi yang lebih tinggi.

H.    Kelemahan dan kelebihan client centered therapy
a.      Kelebihan pendekatan client centered therapy
1.      Pemusatan pada klien dan bukan pada therapist
2.      Identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.
3.      Lebih menekankan pada sikap terapi daripada teknik.
4.      Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.
5.      Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi
6.      Menawarkan perspektyif yang lebih up-to-date dan optimis
7.      Klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya
8.      Klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi

b.    Kekurangan Pendekatan client centered therapy
1.   Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana
2.   Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan
3.   Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai individu.
4.   Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya.
5.   Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.
6.   Teapi  menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif. Mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup
7.   Tidak bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah
8.   Minim teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya


Kamis, 24 Maret 2016

Psikoterapi Holistik


Pembelajaran Holistik
Istilah holistik mengandung makna menyeluruh atau utuh. Pendekatan holistik memandang manusia secara utuh, dalam arti manusia dengan unsur kognitif, afeksi dan perilakunya. Manusia juga tidak bisa berdiri sendiri, namun terkait erat dengan lingkungannya. Manusia tidak bisa terlepas dari manusia lain, demikian pula dengan lingkungan fisik atau alam sekitarnya. Manusia juga tergantung kepada Tuhan yang Maha Kuasa selaku pencipta dan penentu hidupnya(Sawang:2011).
Menurut pusat penelitian dan pelayanan pendidikan Universitas Sanata Darma (2009) dalam artikel onlinya bahwasanya, pembelajaran holistik (holistic learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengkaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik, diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran, tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa.

Akhmad Sudrajat(2008) menuliskan dalam artike onlinya bahwasanya 2008) menuliskan dalam artike onlinya bahwasanya, tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwWBkM6Wt6G2sMtWZdgvHVhX9ervjE2tKNFrFhHKxdIlNWU68Jp5wCgnyjZVWof8KeDcSKWt5vVcJXLaPsS3eEoGo2wVQUIV8840iNzpbZw2s2zJc1KFIohveinbSRfyE5deXYv2C4-d59/s200/holistic-health41-291x300.jpg

A.             Pembelajaran Holistik
Istilah holistik mengandung makna menyeluruh atau utuh. Pendekatan holistik memandang manusia secara utuh, dalam arti manusia dengan unsur kognitif, afeksi dan perilakunya. Manusia juga tidak bisa berdiri sendiri, namun terkait erat dengan lingkungannya. Manusia tidak bisa terlepas dari manusia lain, demikian pula dengan lingkungan fisik atau alam sekitarnya. Manusia juga tergantung kepada Tuhan yang Maha Kuasa selaku pencipta dan penentu hidupnya(Sawang:2011).
Menurut pusat penelitian dan pelayanan pendidikan Universitas Sanata Darma (2009) dalam artikel onlinya bahwasanya, pembelajaran holistik (holistic learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengkaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik, diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran, tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa.

Akhmad Sudrajat(2008) menuliskan dalam artike onlinya bahwasanya 2008) menuliskan dalam artike onlinya bahwasanya, tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).

B.                 Ciri-Ciri Pembelajaran Holistik

Luluk Yunan Ruhendi (2004:187) Paradigma holistik menekankan proses pendidikan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Tujuan pendidikan holistik mengintrodusir terbentuknya manusia seutuhnya dan masyarakat seutuhnya.
2.      Materi  pendidikan holistik mengandung kesatuan pendidikan jasmani-rohani, mengasah kecerdasan intelektual-spiritual (emosional)- ketrampilan, kesatuan materi pendidikan teoritis-praktis, kesatuan materi pendidikan pribadi-sosial-ketuhanan
3.      Proses pendidikan holistik mengutamakan kesatuan kepentingan anak didik-masyarakat.
4.      Evaluasi pendidikan holistik mementingkan tercapainya perkembangan anak didik dalam bidang penguasaan ilmu-sikap-tingkahlaku-ketrampilan.

Metode dan Teknik Pembelajaran Holistik
1.      Metode Pembelajaran Holistik
Metode yang digunakan dalam pembelajaran holistic ada 2 metode yaitu:
a.       Belajar melalui keseluruhan bagian otak.
Bahan palajaran dipelajari dengan melibatkan sebanyak mungkin indera; juga melibatkan berbagai tingkatan keterlibatan, yaitu: indera, emosional, dan intelektual. Sehingga aspek kognitif , afektif,dan psikomotor dapat berkembang secra baik dan berkembang sesuai dengan tingkatan pada fase pertmbuhan manusia.
b.      Belajar melalui kecerdasan majemuk (multiple intelligences)
Siswa mempelajari materi pelajaran dengan menggunakan jenis kecerdasan yang paling menonjol dalam dirnya. Kecerdasan yang digunakan sesuia dengan karakteristik pembelajaran masing masing. Apakah itu bertipe audio, visual atau pin audio visual serta tipe belajar yang lain.

2.      Teknik Pembelajaran Holistik
Ada beberapa teknik pembelajaran holistic yaitu antara lain:
a.       Mengajukan pertanyaan
Siswa menanyakan beberapa terkait beberapa hal  seperti:
(1) Apa yang sedang dipelajari?
(2) Apa hubungannya dengan topik-topik lain dalam bab yang sama?
(3) Apa hubungannya dengan topik-topik lain dalam mata pelajaran yang sama?
(4) Adakah hubungannya dengan topik-topik dalam mata pelajaran lain?
(5) Adakah hubungannya dengan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari?
b.      Memvisualkan informasi
Guru mengajak siswa untuk menyajikan informasi dalam bentuk gambar, diagram, atau sketsa. Objek atau situasi yang terkait dengan informasi disajikan dalam gambar; sedangkan hubungan informasi itu dengan topik-topik lain dinyatakan dengan diagram. Gambar atau diagram tidak harus indah atau tepat, yang penting bisa mewakili apa yang dibayangkan oleh siswa. Jadi gambar atau diagram dapat berupa sketsa atau coretan kasar. Setelah siswa memvisualkan informasi, mereka dapat diminta menerangkan maksud gambar, diagram, atau sketsa yang dibuatnya
c.                Merasakan informasi
Jika informasi tidak dapat atau sukar divisualkan, siswa dapat menangkapnya dengan menggunakan indera lainnya. Misalnya dengan meraba, mengecap, membau, mendengar, atau memperagakan.
Pendidikan holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, emosional, fisik, artistik, kreatif, dan spritual. Sehingga dalam mengembangan pembelajaran holistic harus memperhatikan beberapa hal agar supaya pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Menutut Akhmad Sudrajat(2008) hal yang perlu di pertimbangkan yaitu:
1.      Menggunakan pendekatan pembelajaran transformative
2.      Prosedur pembelajaran yang fleksibel
3.      Pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu
4.      Pembelajaran yang bermakna
5.      Pembelajaran melibatkan komunitas di mana individu berada

d.                Konsep Dasar yang Medasari Pendekatan Holistik
Scott H Young (2005),  Prinsip holistik yang mendasari adalah bahwa organisme kompleks fungsi yang paling efektif ketika semua bagian komponen itu sendiri berfungsi dan co-operasi secara efektif. Dan ide ini berhubungan sangat erat dengan konsep sinergi, dengan seluruh yang lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. Dalam hal pendidikan arus utama pendekatan 'manusia yang utuh' untuk belajar adalah jauh lebih mungkin untuk diamati dalam pembibitan sensorik-kaya atau ruang sekolah aktivitas utama daripada di teater kecerdasan-didominasi kuliah universitas.
Secara maknawi holistik adalah pemikiran secara menyeluruh dan berusaha menyatukan beraneka lapisan kaidah serta pengalaman yang lebih dari sekedar mengartikan manusia secara sempit. Artinya, setiap anak sebenarnya memiliki sesuatu yang lebih daripada yang di ketahuinya. Setiap kecerdasan dan kemampuan seorang jauh lebih kompleks daripada nilai hasil tesnya
Adapun yang dianggap sebagai pendukung pembelajaran holistik adalah tokoh humanistik dari Swiss Johan Pestalozzi, Thoreau, Emerson, maria Montessori dan Rudolf Steiner. Semua tokoh tersebut menjelaskan bahwa pendidikan harus mencakup penanaman moral, emosional, fisik, psikologis, agama serta dimensi perkembangan intelektual anak secara utuh. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa sudah bukan waktunya lagi  pendidikan itu terkotak-kotak sepenggal-sepenggal (bukan waktunya lagi pendidikan terfokus pada salah satu ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik) dalam membentuk peserta didiknya. Mereka harus diberi pendidikan secara holistik dan ideal sebagai bekal hidupnya sehingga nantinya mereka menjadi manusia yang berkeunggulan hidup dan akhirnya mamiliki kemandirian hidup



Luluk Yunan Ruhendi. 2004. Paradikma Pendidikan Universal. Yogyakarta: IRCISoD

Rabu, 16 Maret 2016

Psikoterapi Transpersonal

PSIKOTERAPI: TRANSPERSONAL TUGAS 1


Psikologi Transpersonal
     Psikologi transpersonal merupakan salah satu kajian khusus dalam psikologi humanistik yang mengintegrasikan konsep psikologi dengan aspek spiritual dari pengalaman manusia. Pengalaman personal dari tiap individu dalam kajian ini berperan sangat penting, sebagai dasar dari konsep psikologi transpersonal itu sendiri agar tidak sekedar menjadi bahasan yang abstrak.

Sejarah 
        Tokoh psikologi humanistik, yaitu Abraham Maslow yang terkenal dengan teori aktualisasi dirinya, pada tahun 1968 menemukan adanya keterbatasan pada model humanistik. Menurutnya, terdapat kemungkinan-kemungkinan dalam diri manusia untuk melampaui aktualisasi diri, dimana individu merasa sebagai bagian dari satu kesatuan yang lebih besar. Oleh karena itu kebutuhan “aktualisasi diri” ini tidak lagi relevan untuk dikatakan sebagai kebutuhan tertinggi dalam hirarki kebutuhannya. Maslow bahkan menjuluki psikologi transpersonal sebagai kekuatan keempat dalam psikologi untuk melengkapi 3 aliran yang telah ada sebelumnya, yaitu psikoanalisis, behavioristik dan humanistik.

Apa itu Psikologi Transpersonal
        Psikologi transpersonal berpusat pada satu konsep utama, yaitu self transendensi. Self atau aku dalam transendensi merupakan hubungan antara aku dengan alam semesta. Konsep aku menjadi satu dengan ciptaan semesta sehingga bila dianalogikan aku dengan mahkluk hidup yang lainnya merupakan satu jaringan yang saling terkait satu sama lain. Aku ada karena mereka, begitu pula sebaliknya. Tanpa orang-orang di sekitarku, aku tidak akan menjadi “aku” yang sekarang. Jika salah satu dari orang-orang tersebut ada yang terluka, maka aku juga akan ikut merasakan sakitnya. Hal-hal tersebut merupakan pikiran yang akan muncul pada diri individu yang telah mencapai self-transendensi. Pada tahapan ini individu tidak lagi mementingkan ego-nya sendiri, karena ia mengetahui setiap perilaku yang ia ambil akan berkonsekuensi terhadap sekitarnya, bahkan semesta.
       Maslow menemukan bahwa beberapa orang yang mencari aktualisasi diri mengalami pengalaman puncak (peak experience) atau pengalaman transenden, namun ada pula yang tidak mengalaminya. Jadi terdapat dua perbedaan penting antara aktualisasi diri dengan transendensi diri sehingga pada akhirnya memunculkan psikologi transpersonal sebagai kekuatan keempat dalam psikologi yang akan disajikan dalam tabel berikut:


Self-Actualization
Self-Transendensi

Individu yang mencapai kebutuhan tahap ini tidak selalu telah mengalami pengalaman puncak (pengalaman mistik pada individu yang melibatkan perasaan dan sensasi mendalam baik secara psikologis maupun fisiologis sehingga dapat merubah dirinya secara cukup signifikan).

Individu pernah mengalami pengalaman puncak (pengalaman mistik pada individu yang melibatkan perasaan dan sensasi mendalam baik secara psikologis maupun fisiologis sehingga dapat merubah dirinya secara cukup signifikan).

Individu berfokus pada pemenuhan kebutuhan dan minatnya di dunia, seperti kemanusiaan, identitas diri ataupun keinginan-keinginannya sebagai manusia.

Individu berfokus pada kosmos, bahwa dirinya merupakan satu kesatuan dengan semesta dan saling terkait satu sama lain dengan mahkluk hidup lainnya sehingga ego dirinya tidak lagi menjadi hal utama yang harus dipenuhi.
         
 Salah satu tokoh lain yang turut mengembangkan psikologi transpersonal adalah Roberto Assagioli. Beliau adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah transpersonal dalam psikoterapi. Ia memperkenalkan sistem psikosintesis yang mendapatkan pengaruh dari Jung. Psychosyntesis dari Assagioli ( 1971 ) menyajikan sejumlah besar ragam metode therapeutic, di mulai dengan menangani masalah fisik pasien, khususnya gangguan psikosomatik kemudian beralih kepada gangguan psikologisnya, hingga akhirnya mencapai puncaknya pada latihan rohani.

Sumber:
  • Prabowo, Hendro. (2008). Modul Seri Latihan Kesadaran I.  Jakarta.
  • Schneider, K., Bugental, J.F.T, Pierson, J.F. (2001). Handbook of Humanity Psychology. Sage    Publication.