Pengaruh
merupakan daya yang dimiliki setiap manusia untuk ikut menaruh kepercayaan atau
perbuatan ke seseorang. Pengaruh sendiri ini bertujuan untuk mempersuasif
seseorang agar mau melakukan apa yang kita inginkan. Banyak cara untuk mempengaruhi
baik secara internal ataupun eksternal. Biasanya orang memiliki wewenang atau
kekuasaan adalah orang yang sangat bisa mempengaruhi orang atau orang yang
mengikut berpengaruh.
Definisi
Pengaruh
Pengaruh
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah daya yang ada dan timbul
dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau
perbuataan seseorang. Dari pengertian di atas telah dikemukakan sebelumnya
bahwa pengaruh adalah merupakan sesuatu daya yang dapat membentuk atau mengubah
sesuatu yang lain.
Berikut
ini adalah pengertian dan definisi pengaruh menurut para ahli:
1. Wiryanto
Pengaruh
merupakan tokoh formal mauoun informal di dalam masyarakat, mempunyai ciri
lebih kosmopolitan, inovatif, kompeten, dan aksesibel dibanding pihak yang
dipengaruhi.
2. M. Suyanto (AMIKOM YOGYAKARTA)
Pengaruh
merupakan nilai kualitas suatu iklan melalui media tertentu.
3. Uwe Becker
Pengaruh
adalah kemampuan yang terus berkembang yang - berbeda dengan kekuasaan - tidak
begitu terkait dengan usaha memperjuangkan dan memaksakan kepentingan (involed
is formatif vermogen dat - in tegens telling tot macht - niet direct verbonden
is met strijd en de doorzetting van belangen).
4. Norman Barry
Pengaruh
adalah suatu tipe kekuasaan yang jika seorang yang dipengaruhi agar bertindak
dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian,
sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang
mendorongnya (influence is a type of power in that a person who is influenced
to act in a certain way may be said to be caused so to act, even though an
overt threat of santions will not be the motivating force).
5. Robert Dahl
A
mempunyai pengaruh atas B sejauh ia dapat menyebabkan B untuk berbuat sesuatu
yang sebenarnya tidak akan B lakukan.
6. Sosiologi Pedesaan
Pengaruh
merupakan kekuasaan yang mengakibatkan perubahan perilaku orang lain atau
kelompok lain.
7. Bertram Johannes Otto Schrieke
Pengaruh
merupakan bentuk dari kekuasaan yang tidak dapat diukur kepastiannya.
8. Albert R. Roberts & Gilbert
Pengaruh
adalah wajah kekuasaan yang diperoleh oleh orang ketika mereka tidak memiliki
kewenangan untuk mengambil keputusan.
9. Jon Miller
Pengaruh
merupakan komoditi berharga dalam dunia politik Indonesia
. Kunci-Kunci
Perubahan Perilaku
Secara
definisi, masyarakat adalah kumpulan individu-individu yang salingberinteraksi
dan memiliki komponen perubahan yang dapat mengikat satu individu dengan
individu lain dengan perilakunya. Sedangkan perubahan merupakan peralihan kondisi
yang tadinya buruk, menjadi baik. Masyarakat yang berubah adalah masyarakat
yang terdiri dari satu individu kepribadian (personality) baik. Personality
tidak dibentuk dari performance dan style seseorang, melainkan dari adannya
daya intelektual dan perbuatan.
Oleh
karena itu, kunci perubahan masyarakat adalah membentuk daya intelektual dan
perbuatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga terjadilah
perubahan perilaku yang secara otomatis diikuti dengan perubahan masyarakat.
Maka, persoalan kemiskinan bisa berubah jika terjadi perubahan perilaku di
dalam masyarakat.
Perilaku
yang akan menjadi kunci perubahan di masyarakat adalah sikap yang mampu melalui
berbagai benturan dengan gemilang, adanya kepercayaan diri tanpa batas, dan
tekad untuk terus berjuang hingga titik nadir. Perubahan masyarakat akan
berimplikasi terhadap perubahan individu, karena di dalamnya ada interaksi
sebagai kontrol sosial yang dapat mendidik manusia.
Perilaku
adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat
diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari
maupun tidak :
-
Courage: diperlukan keberanian,kebulatan,tekad dan keteguhan hati
- High
confidence : kekuatan penggerak hidup anda
-
Attitude: mental yang positif
- New
action: tindakan yang benar-benar konsisten
- Goal:
target atau tujuan yang benar-benar diinginkan
-
Excellence :menjadi yang terbaik
BAGAIMANA
MEMPENGARUHI PERILAKU ORANG LAIN
A. Faktor
Internal
Tingkah
laku manusia adalah corak kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada
dalam dirinya. Faktor-faktor intern yang dimaksud antara lain jenis
ras/keturunan, jenis kelamin, sifat fisik, kepribadian, bakat, dan
intelegensia. Faktor-faktor tersebut akan dijelaskan secara lebih rinci seperti
di bawah ini.
1) Jenis
Ras/ Keturunan
Setiap
ras yang ada di dunia memperlihatkan tingkah laku yang khas. Tingkah laku khas
ini berbeda pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri
perilaku ras Negroid antara lain bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol
dalam kegiatan olah raga. Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang bergotong
royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual. Demikian
pula beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
2) Jenis
Kelamin
Perbedaan
perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan
pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa
dimungkikan karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian
tugas. Wanita seringkali berperilaku berdasarkan perasaan, sedangkan orang
laki-laki cenderug berperilaku atau bertindak atas pertimbangan rasional.
3) Sifat
Fisik
Kretschmer
Sheldon membuat tipologi perilaku seseorang berdasarkan tipe fisiknya. Misalnya,
orang yang pendek, bulat, gendut, wajah berlemak adalah tipe piknis. Orang
dengan ciri demikian dikatakan senang bergaul, humoris, ramah dan banyak teman
4)
Kepribadian
Kepribadian
adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang
digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik
yang datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan
kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu.
Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh
terhadap perilaku sehari-harinya
5)
Intelegensia
Intelegensia
adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara
terarah dan efektif. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, tingkah laku
individu sangat dipengaruhi oleh intelegensia. Tingkah laku yang dipengaruhi
oleh intelegensia adalah tingkah laku intelegen di mana seseorang dapat
bertindak secara cepat, tepat, dan mudah terutama dalam mengambil keputusan
6) Bakat
Bakat adalah
suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus
mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya berupa
kemampuan memainkan musik, melukis, olah raga, dan sebagainya
B. Faktor
Eksternal
1) Pendidikan
Inti dari
kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar
mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan
sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang
berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan
rendah.
2) Agama
Agama
akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang
diajarkan oleh agama yang diyakininya.
3)
Kebudayaan
Kebudayaan
diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Tingkah laku
seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada
kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku orang
Papua.
4)
Lingkungan
Lingkungan
adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik,
biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan
perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan
bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan
lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
5) Sosial
Ekonomi
Status
sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang
diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi
perilaku seseorang.
WEWENANG
Mengapa
manajer dapat memerintah karyawan. Pada situasi yang normal, manajer dapat
membuat karyawan mengerjakan apa yang ia perintahkan. Mengapa manajer dapat
mendapatkan hak untuk memerintah.
Ada dua
pandangan yang menjelaskan wewenang formal (resmi):
1. Pandangan klasik (classical view)
Wewenang
datang dari tingkat paling atas, kemudian secara bertahap diturunkan ke tingkat
yang lebih bawah
2. Pandangan penerimaan (acceptance view)
Sudut pandang
wewenang adalah penerima
perintah, bukannya pemberi
perintah. Pandangan ini dimulai dengan pengamatan bahwa tidak semua
perintah dipatuhi oleh penerima perintah. Penerima perintah akan menentukan
apakah akan menerima perintah atau tidak.
Menurut
Chester I. Bernard seseorang akan memenuhi perintah apabila dipenuhi empat
kondisi berikut:
1. Dia dapat memahami komunikasi
2. Dia percaya bahwa perintah tersebut
tidak bertentangan dengan tujuan organisasi
3. Perintah tersebut tidak bertentangan
dengan kepentingan secara keseluruhan, dan,
4. Secara fisik dan mental mampu
menjalankan perintah tersebut.
Wewenang
Lini, Staff dan Fungsional :
1. Wewenang Lini
Dimiliki
oleh manajer lini yang mengambil keputusan untuk mencapai tujuan organisasi
secara langsung. Dalam bagan organisasi, wewenang lini digambarkan oleh garis
yang menghubungkan manajemen puncak sampai ke manajemen tingkat bawah.
2. Wewenang Staff
Dilakukan
oleh orang atau kelompok orang yang memberikan jasa atau nasehat kepada manajer
lini. Staff ahli biasannya merupaka istilah yang menggambarkan posisi tersebut.
Staff ahli memberikan nasehat berdasarkan keahlian, pengalamana, atau riset dan
analisis yang diperlukan, termasuk bantuan pelaksanaan kebijakan, monitor, dan
pengendalian.
3. Wewenang Fungsional
Kadang
organisasi mempunyai manajer atau departemen yang mempunyai wewenang
fungsional. fungsi keuangan dan akuntansi sering diberikan wewenang fungsional.
Delegasi
Wewenang
Dapat
diartikan sebagai penugasan wewenang dan tanggung jawab formal organisasi
kepada orang lain, dalam hal ini karyawan. Wewenang dapat didelegasikan sesuai
dengan prinsip skalar dari manajemen klasik, yang mengatakan bahwa garis
wewenang harus ditetapkan dengan jelas dari manajemen puncak sampai karyawan
paling bawah. Delegasi wewenang bukan merupakan pelepasan tanggung jawab.
Keuntungan
dan Halangan Delegasi Wewenang
Delegasi
wewenang memungkinkan manajer menyelesaikan lebih banyak pekerjaan daripada
kalau semuanya dikerjakan sendiri. Kadang bawahan mempunyai keahlian yang lebih
dibandingkan dengan manajer untuk hal-hal tertentu.
Beberapa
manajer kadang enggan mendelegasikan wewenang karena:
1. Tidak yakin akan kemampuan bawahan
2. Merasa mampu mengerjakan sendiri
3. Tidak efisien untuk mengajari
bawahannya melakukan tugas
4. Takut wewenangnya akan berkurang, atau
takut kalau bawahannya dapat melakukan tugas lebih baik dibandingkan dirinya.
Karyawan
kadang enggan menerima delegasi wewenang karena beberapa alasan:
1. Takut gagal
2. Merasa
tidak ada penghargaan
untuk krja yang
akan dilakukannya, atau
tidak mau menganggung risiko
3. Semua risiko diserahkan atau ditanggung
oleh manajer.
Delegasi
Wewenang yang Efektif
1. Memutuskan pekerjaan mana yang akan
didelegasikan, karena tidak semua pekerjaan dapat didelegasikan
2. Memutuskan siapa yang akan memperoleh
penugasan, dengan beberapa pertimbangan: waktu yang dipunyai karyawan,
kemampuan yang dimiliki karyawan, dan kesempatan yang akan dimanfaatkan oleh
karyawan
3. Mendelegasikan tugas, disertai dengan
informasi dan pemberian wewenang yang cukup, dan bentuk hasil yang diharapkan
4. Menetapkan Feedback, untuk memonitor
kemajuan yang dicapai oleh bawahan.
SUMBER :
Kariyoso.
1994. Pengantar Komunikasi Bagi Siswa Perawat. Jakarta: Penerbit EGC
Kusmiati,
Sri. 1990. Dasar-dasar Perilaku. Jakarta: Penerbit Depkes RI
Purwanto,
Heri. 1999. Pengantar Perilaku Manusia, Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit
EGC.
Heru
Basuki, A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Gunadarma
Munandar,
A. S. (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Depok: Universitas Indonesia
(UI Press)
Robbins,
Stephen.P, dkk. (2008). Organizational Behavior. Jakarta: Salemba Empat
Sarwono,
S. W. (2005). Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan.
Jakarta: Balai Pustaka.
http://viyan.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/15113/2_WEWENANG,+DELEGASI+DAN+DESENTRALISASI.pdf