KOMUNIKASI
Kelompok Bunga Cempaka
NAMA
KELOMPOK
1. Riska
indraswari (17513794)
2. Yanita
rahma juita (19513806)
3. Prima
nur hakim (16513924)
4. Muhammad
Al-azhar (155138225
5. Natasha
erinia (16513353)
6. Aulia
kusuma wardani (11513500)
BAB I PENDAHULUAN
Dari semua pengetahuan dan keterampilan yang
kita miliki, pengetahuan danketerampilan yang menyangkut komunikasi termasuk di
antara yang paling penting dan berguna. Melalui komunikasi intrapribadi kita
berbicara dengan diri sendiri, mengenal dirisendiri, mengevaluasi diri sendiri
tentang ini dan itu, mempertimbangkan keputusan-keputusanyang akan diambil dan
menyiapkan pesan-pesan yang akan kita sampaikan kepada orang lain.Melalui
komunikasi antar pribadi kita berinteraksi dengan orang lain, mengenal mereka
dandiri kita sendiri, dan mengungkapkan diri sendiri kepada orang lain. Apakah
kepada pimpinan,teman sekerja, teman seprofesi, kekasih, atau anggota keluarga,
melalui komunikasi antar pribadilah kita
membina, memelihara, kadang-kadang merusak (dan ada kalangnyamemperbaiki)
hubungan pribadi kita.
I.
Definisi
Komunikasi
Menurut Everett M. Rogers, mengemukakan
pendapatnya yaitu “ komunikasi adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan
dari sumber kepada suatu penerimaan atau
lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
Menurut Rogers & O.Lawrence Kincaid “
komunikasi merupakan suatu interaksi dimana terdapat dua orang atau lebih yang
sedang membangun atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lain yang
pada akhirnya akan tiba diamana mereka saling memahami dan mengerti.
Menurut Bernard Berelson dan Gary A Steiner Komunikasi:
transmisi informasi, gagasan,emosi,keterampilan dan sebagainya,dengan
menggunakan simbol simbol-kata kata,gambar,figur,grafik, dan sebagainya.
Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.
Menurut Theodore M Newcomb Setiap tindakan
komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi,terdiri dari rangsangan
yang diskriminatif dari sumber kepada penerima.
II.
Dimensi
Komunikasi
a. Dimensi
isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi secara nonverbal.
Dimensi isi menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan.
Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya yang juga
mengisyaratkan bagaimana hubungan para komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya
pesan itu ditafsirkan.
Dalam
komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan, sedangkan dimensi
hubungan merujuk kepada unsur-unsur lain, termasuk juga jenis saluran yang digunakan
untuk menyampaikan pesan tersebut. Pengaruh suatu berita atau artikel dalam
surat kabar, misalnya, hanya bukan bergantung pada isinya, namun juga pada
siapa, penulisnya, tata letak (lay oDimensi Komunikasi
Dimensi isi disandi secara verbal, sementara
dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan muatan (isi)
komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan
bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para
komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan.
Dalam
komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan, sedangkan dimensi
hubungan merujuk kepada unsur-unsur lain, termasuk juga jenis saluran yang
digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Pengaruh suatu berita atau artikel
dalam surat kabar, misalnya, hanya bukan bergantung pada isinya, namun juga
pada siapa, penulisnya, tata letak (lay out)-nya, jenis huruf yang digunakan,
warna tulisan, dan sebagainya.
b. Pengertian
Persepsi Terhadap Kebisingan
Menurut
Mahmud (1990:41) persepsi adalah menafsirkan stimulus yang telah ada dalam
otak. Meskipun alat untuk menerima stimulus itu serupa pada setiap individu,
tetapi interpretasinya berbeda. Sedangkan menirut Davidoff (1988:237) stimulus
yang di indera itu oleh individu diorganisasikan, kemudian diinterpretasikan,
shingga individu menyadari , mengerti tentang apa yang diindera itu, dan itulah
yang disebut persepsi.
Menurut Gibson (1995:340) persepsi mencakup
penerimaaan stimulus pengorganisasian, penafsiran stimulus yang mempengaruhi
tingkah laku individu. Setiap individu memberikan pengertian yang berbeda pada
stimulus yang sama dan melihat obyek yang sama serta melihat obyek yang sama
dengan cara yang berbeda sehingga menimbulkan tingkah laku yang berbeda pula.
Meurut Walgito (1981:53) persepsi mrupakan suatu
proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu merupakan proses yang berujud
diterimanya stimulus oleh indiviodu melalui alat reseptornya. Kemudian stimulus
tersebut dilanjutkan ke pusat susunan syaraf yaitu otak, dan terjadilah proses
psikologis sehingga individu menyadari apa yang
ia lihat, dengar dan sebagainya,
individu tersebut mengalami persepsi SK
Menteri Negara Lingkungan Hidup No: Kep-Men-48/MEN.LH/11/1996 menjelaskan bahwa kebisingan adalah bunyi
yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu
tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan ,
termasuk ternak, satwa dan sistem alam. (www.pramita.com diakses pada tanggal
10 mei 2014 pukul 20.30 WIB)
Bell dkk dalam Prawiti dkk (2001) juga
mengungkapkan hal yang serupa bahwa kebisingan adalah suara yang tidak
diinginkan. Sedangkan Gifford (dalam Kusuma, 2007) bahwa kebisingan sebagai
suatu suara atau bunyi yang tidak
diinginkan dan yang tidak relevan dengan tugas atau aktivitas yang dilakukan
seperti suara yang berdengung dengung, berdesir – desir hingga telinga menjadi
pekak.
Dari beberapa
pengertian di atas
dapat disimpulkan bahwa persepsi terhadap kebisingan adalah
penerimaan stimulus, pengorganisasian, serta penafsiran stimulus terhadap bunyi
yang tidak diinginkan dan tidak relevan seperti suara yang berdengung – dengung
hinggga telinga menjadi pekak dan dapat mempengaruhi perilaku seseorang.
2. Ciri
–ciri persepi terhadap kebisingan Menurut Irwanto (1991:88) ciri dari persepsi
adalah:
a) Modalitas:
rangsang – rangsang yang diterima harus sesuai dengan modalitas tiap – tiap
indera, yaitu sifat sensoris dasar dan masing – masing indera. Seperti cahaya
pada penglihatan, bau pada penciuman, bunyi pada pendengaran, suhu pada perasa
dan sifat permukaan pada peraba.
b) Dimensi
ruang: dunia persepsi mempunyai sifat ruang, yaitu atas- bawah, luas-sempit,
tinggi rendah dan lain – lain.
c) Dimensi
waktu; dunia persepsi mempunyai dimensi waktu, seperti cepat-lambat, tua-muda
dan lain – lain.
d) Struktur
konteks, keseluruhan yang menyatu; obyek atau gejala – gejala dalam dunia
pengamatan mempunyai stuktur yang menyatu dengan konteksnya. Struktur dan
konteks ini merupakan keseluruhan yang menyatu.
e) Sedangkan menurut
Feliana (2011) indikator
persepsi terhadap kebisingan
adalah:
1. Gangguan pendengaran
2. Gangguan rekasi emosional
3. Gangguan pada pelajaran
4. Komunikasi
5. Fisiologis
Maka
dapat diambil ciri – ciri persepsi terhadap kebisingan adalah gangguan
pendengaran, gangguan reaksi emosional, gangguan pada pelajaran, komunikasi,
dan fisiologis.
3. Dampak Kebisingan
Menurut
Buchari (2003), dampak dari kebisingan adalah:
I. Gangguan
Fisiologis
Pada
umumnya, bising bernada tinggi sangat mengganggu, apalagi bila terputus-putus
atau yang datangnya tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan
tekanan darah (±
10 mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah
perifer terutama pada tangan dan kaki, serta dapat menyebabkan pucat. Bising
dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing/sakit kepala. Hal
ini disebabkan bising
dapat merangsang situasi reseptor vestibular dalam telinga
dalam yang akan menimbulkan evek pusing/vertigo. Perasaan mual,susah tidur dan
sesak nafas disbabkan oleh rangsangan bising terhadap sistem saraf,
keseimbangan organ, kelenjar endokrin, tekanan darah, sistem pencernaan dan
keseimbangan elektrolit.
II. Gangguan Psikologis
Gangguan
psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, dan
cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan
penyakit psikosomatik berupa gastritis, jantung, stres, kelelahan dan
lain-lain.
III. Gangguan Komunikasi
Gangguan
komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang kurang
jelas) atau gangguan kejelasan suara. Komunikasi
pembicaraan harus dilakukan dengan cara
berteriak. Gangguan ini
menyebabkan terganggunya
pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar
isyarat atau tanda bahaya. Gangguan komunikasi ini secara tidak langsung
membahayakan keselamatan seseorang.
IV. Gangguan Keseimbangan
Bising
yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau
melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing
(vertigo) atau mual-mual.
V. Efek pada pendengaran
Pengaruh
utama dari bising pada kesehatan adalah kerusakan pada indera pendengaran, yang
menyebabkan tuli progresif dan efek ini telah diketahui dan diterima secara
umum dari zaman dulu. Mula- mula efek bising pada pendengaran adalah sementara
dan pemuliahan terjadi secara cepat sesudah pekerjaan di area bising
dihentikan. Akan tetapi
apabila bekerja terus-menerus
di area bising maka
akan terjadi tuli menetap dan tidak
dapat normalkembali, biasanya
dimulai pada frekuensi 4000 Hz dan kemudian makin meluas kefrekuensi sekitarnya
dan akhirnya mengenai frekuensi yang biasanya digunakan untuk percakapan.
Dalam
teori di atas di sebutkan bahwa dampak dari kebisingan salah satunya adalah
gangguan psikologis yang termasuk di dalamnya adalah kelalahan. Kelelahan
adalah factor paling umum dari penyebab kejenuhan yang melanda siswa. (Muhibbin
Syah, 163:199)
c. Jaringan
komunikasi adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orng
ke orang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama,
kelompok kecil sesuai dengan sumberdaya yang dimilikinya akan mengembangkan
pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jarngan komunikasi. Jaringan
komunikasi ini kemudian merupakan sistim komunikasi umum yang akan digunakan
oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang keorang lainnya. Kedua,
jaringan komunikasi ini bias dipandang sebagai struktur yang diformalkan yang
diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi.
d. Dimensi
Arah adalah Komunikasi dalam konteks ini dibagi menjadi dua, yaitu komunikasi
satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah merupakan satu orang
member informasi kepada orang lain tanpa ada timbale balik, sedangkan
komunikasi dua arah merupakan komuniikasi dimana satu orang memberikan
informasi ke orang lain, dan orang lain juga memberikan informasi sehingga
terjadi pertukaran informasi diantara keduanya.
e. Gaya
komunikasi dua arah Dalam gaya
komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap
anggota organisasi The Equalitarian Style dapat mengungkapkan gagasan ataupun
pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam suasana yang
demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan
pengertian bersama. Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan
kesamaan. The equalitarian style of communication ini ditandai dengan
berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang
bersifat dua arah (two-way communication).
f. Orang-orang
yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan ini, adalah orang-orang
yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan
yang baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup
hubungan kerja. The equalitarian style ini akan memudahkan tindak komunikasi
dalam organisasi, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja
sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu
permasalahan yang kompleks. Gaya komunikasi ini pula yang menjamin
berlangsungnya tindak berbagi informasi di antara para anggota dalam suatu
organisasi.
Sumber :
Zarkasi, Muslichah. 1978. Psikologi Manajemen. Jakarta: Erlangga
Mulyana, Deddy.2014. Ilmu Komunikasi Suatu
Pengantar. Bandung:PT Remaja Rosdakarya
Mortimer R. Fienberg, dkk.1996. Psikologi
Manajemen, Jakarta: Penerbit Mitra Utama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar