Jumat, 29 Mei 2015

  FENOMENA DEPRESI
    
 
    Pengertian Depresi
 
Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat, berawal dari stres yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke fase depresi. Penyakit ini kerap diabaikan karena dianggap bisa hilang sendiri tanpa pengobatan. Padahal, depresi yang tidak diterapi dengan baik bisa berakhir dengan bunuh diri.
Menurut Mendels (dalam Meyer, 1984 : 159) mengatakan bahwa individu mengalami depresi jika individu mengalami gajala-gejala rasa sedih, pesimis, membenci diri sendiri, kehilangan energi, kehilangan konsentrasi, dan kehilangan motivasi. Selain itu individu juga kehilangan nafsu makan, berat badan menurun, insomnia, kehilangan libido, dan selalu ingin menghindari orang lain.
Depresi pada lanjut usia kemungkinan akan sangat berkaitan dengan proses penuaan yang terjadi pada diri lanjut usia, pada fase tersebut sering terjadi perubahan fisik dan mental yang mengarah ke penurunan fungsi. Proses menjadi tua menghadapkan lanjut usia pada salah satu tugas yang paling sulit dalam perkembangan hidup manusia. Hurlock (1992 : 387 ) mengemukakan beberapa masalah yang umumnya unik pada lanjut usia, yaitu :
  • Keadaan fisik lemah dan tidak berdaya, sehingga bergantung pada orang lain.
  • Menentukan kondisi fisik yang sesuai dengan perubahan status ekonominya.
  • Mencari teman untuk mengganti pasangan yang meninggal atau cacat.
  • Mengembangkan kegiatan untuk mengisi waktu luang yang semakin bertambah.
  • Belajar untuk memperlakukan anak – anak yang sudah besar sebagai orang dewasa.
  • menjadi korban kriminalitas karena tidak sanggup lagi mempertahankan diri.
Jadi keadaan depresi dapat diketahui dari gejala dan tanda yang penting yang mengganggu kewajaran sikap dan tindakan individu atau menyebabkan kesedihan yang mendalam.
2. Aspek Depresi
Depresi memiliki beberapa aspek emosional, kognitif, motivasional, dan fisik.
a.Aspek yang dimanifestasikan secara emosional, yaitu:
·         Perasaan kesal atau patah hati (dejected mood)
·         Perasaan negatif terhadap diri sendiri
·         Hilangnya rasa puas
·         Hilangnya keterlibatan emosional dalam melakukan pekerjaan atau hubungan dengan orang lain
·         Kecenderungan untuk menangis diluar kemauan
·         Hilangnya respon terhadap humor

b.   Aspek depresi yang dimanifestasikan secara kognitif, yaitu
  • Rendahnya evaluasi diri
  • Citra tubuh yang terdistorsi.
  • Harapan yang negatif
  • Menyalahkan dan mengkritik diri sendiri
  •  Keragu-raguan dalam mengambil keputusan
c. Aspek yang dimanifestasikan secara motivasional,yaitu :
meliputi pengalaman yang disadari penderita, yaitu tentang usaha, dorongan, dan keinginan. Ciri utamanya adalah sifat regresif motivasi penderita, penderita tampaknya menarik diri dari aktifitas yang menuntut adanya suatu tanggung jawab, inisiatif bertindak atau adanya energi yang kuat.

d. Aspek depresi yang muncul sebagai gangguan fisik
meliputi :
kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, kehilangan libido, dan kelelahan yang sangat.
Jadi depresi terjadi karena hilangnya objek eksternal yang bernilai tinggi bagi individu tersebut. Kehilangan didefinisikan sebagai kehilangan objek cinta utama, yaitu sesorang, sesuatu atau aktifitas.
Menurut teori kognitif,
Depresi disebabkan oleh adanya bentuk-bentuk pemikiran yang tidak logis. Individu yang depresi cenderung berpikir dengan cara yang menyimpang dan penyimpangan ini menimbulkan masalah baru dan memperburuk keadaan yang ada serta meningkatkan perputaran yang memyebabkan depresi. Hal ini dipertegas oleh Ellis (dalam Meyer, 1984 : 187) yang mengatakan bahwa cara individu memandang dan berpikir tentang dirinya sendiri akan menimbulkan gangguan tertentu seperti depresi
.
4.Faktor-faktor
yang Menyebabkan Depresi
Menurut Birren (1980 : 629) ada beberapa faktor yang menimbulkan depresi, yaitu :
a.Faktor individu yang meliputi :
  • Faktor biologis seperti genetik, proses menua secara biologis, penyakit fisik tertentu.
  • Faktor psikologis seperti kepribadian, proses menua secara psikologis. Pada kepribadian introvert akan berusaha mewujudkan tuntutan dari dalam dirinya dan keyakinannya, sedangkan kepribadian ekstrovert membentuk keseimbangan dirinya dengan menyesuaikan keinginan - keinginan dari orang lain.
b.Faktor kejadian - kejadian hidup yang penting bagi individu
Kehilangan seseorang ataupun sesuatu dapat menimbulkan depresi. Penyakit fisik juga berhubungan dengan serangan afeksi karena penyakit merupakan ancaman terhadap daya tahan individu, terhadap kemampuan kerjanya, kemampuan meraih apa yang diinginkannya dan merupakan ancaman terhadap aktifitas motorik dan perasaan sejahtera individu.
 
c. Faktor lingkungan yang meliputi faktor sosial, faktor budaya, dan faktor lingkungan fisik.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi, diantaranya adalah proses menua secara biologis, penyakit fisik, kepribadian, kehilangan orang yang dicintai, dan faktor lingkungan.
  Hubungan Antara Kebutuhan Berafiliasi Dengan Kecenderungan Depresi Pada Wanita Lanjut    Usia

Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial karena setiap manusia memiliki kebutuhan untuk dapat intim atau akrab dengan sesamanya (need for intimacy) dimana kebutuhan ini muncul pertama kali pada saat seorang bayi ingin menjalin kontak dengan orang lain.
Hal ini ditambahkan oleh Mc Dougall (dalam Atkinson & Hillgard, 1996 : 6) yang menyatakan bahwa salah satu naluri manusia yaitu suka berteman. Jika kebutuhan untuk kontak dengan orang lain atau berinteraksi sosial tidak dapat terpenuhi maka akan menimbulkan perasaan tertekan pada individu yang bersifat subyektif.
Dengan berjalannya waktu, sesungguhnya kebutuhan tersebut tetap sama sepanjang masa remaja atau dewasa, kebutuhan tersebut dapat langsung terpenuhi tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Keterlibatan individu pada situasi sekolah, kerja, teman sekelompok dan pasangan hidup, dengan kemampuan mobilitas yng tinggi lebih memungkinkan terjadinya kontak sosial. Tetapi pada masa lanjut usia terjadi perubahan-perubahan dalam peran sosial dan emosional.

Dengan keadaan yang seperti itu, para lanjut usia diharapkan melakukan penyesuaian diri dengan tugas-tugas perkembangan yang dihadapi. Lanjut usia diharapkan dapat menyesuaikan diri terhadap kemunduran kesehatan, pensiun, kematian pasangan hidup dan mengembangkan hubungan kedekatan dengan teman seusia serta anak, cucu atau keluarga lainnya.
Namun, sejalan dengan perkembangan masyarakat menuju modernisasi terjadi pula pergeseran dalam pola interaksi keluarga. Perubahan-perubahan yang cepat, kesibukan, pekerjaan dan munculnya teknologi baru yang dapat menimbulkan kesenjangan pengalaman antar generasi tua dan muda. Akibatnya komunikasi dan keakraban hubungan didalam keluarga menjadi berkurang. Penghargaan terhadap lanjut usia sering hanya diwujudkan dalam bentuk materi.
Pada dasarnya lanjut usia masih membutuhkan perhatian dan dukungan dari keluarganya sebagai tempat bergantung yang terdekat. Lanjut usia ingin hidup bahagia dan tenang dihari tua serta masih ingin diakui keberadaannya. Namun seiring dengan bertambah tuanya individu, anak – anak dan teman – temannya juga semakin sibuk dengan masalahnya sendiri.

Sebenarnya lanjut usia tidak akan menimbulkan masalah yang berarti bagi keluarganya apabila keluarganya masih sanggup merawatnya. Namun, bila keluarganya menjadi semakin sibuk dan tidak memiliki waktu dan tenaga untuk merawatnya, salah satu jalan yang dipilih adalah dengan menempatkan lanjut usia di panti werdha. Keputusan keluarga untuk menempatkan lanjut usia di panti werdha belum tentu diterima oleh lanjut usia. Lanjut usia mungkin saja merasa terbuang, tidak dibutuhkan lagi, terisolasi dan kehilangan orang – orang yang dicintai (Turner & Helms, 1983). Hal ini menyebabkan lanjut usia harus mampu menyesuaikan diri diri dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama penghuni panti, apabila lanjut usia tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan panti, lanjut usia akan merasa kesepian dan mudah mengalami depresi.
 
Salah satu cara umum untuk mengatasi depresi adalah dengan cara berafiliasi atau berintegrasi dengan orang lain. Kebutuhan berafiliasi pada lanjut usia terutama mengarah pada kebutuhan berada dengan keluarganya terutama anak – anaknya karena kebersamaan didalam keluarga merupakan hal yang sangat didambakan oleh setiap individu, terutama bagi para lanjut usia. Berkumpul bersama pasangan, anak, cucu, membuat harapan hidup para lanjut usia bertambah panjang dan hubungan yang baik diantara semua anggota keluarga merupakan suatu kebahagiaan yang besar bagi para lanjut usia (Turner & Helms, 1995 : 215).
 
Menurut Mullins dan Dugan (dalam Nanik Afida, 2000 : 185) menyatakan bahwa anggota keluarga, terutama anak – anak cenderung menyumbang lebih besar terhadap kebahagiaan para lanjut usia daripada teman – teman. Sumbangan ini dapat beripa dukungan emosional, penjagaan kesehatan, dan dukungan finansial. Selain itu, perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh anak – anaknya dapat meningkatkan kepuasan serta rasa aman, sehingga membuat para lanjut usia merasa kebutuhan berafiliasinya terpenuhi.Dari beberapa uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa jika sedang mengalami depresi, individu termotivasi untuk mencari orang lain yang mengalami situasi yang sama. Alasannya ada dua macam. Pertama, berkumpul dengan orang lain dan berbicara kepada mereka tentang keadaan yang dialami tampaknya dapat menolong untuk mengurangi depresi yang dialaminya. Kedua, dengan membandingkan reaksi individu itu sendiri dengan orang lain, sehingga individu dapat lebih mampu mengatur dan mengevaluasi perasaan individu tersebut. Dengan kata lain, individu dapat mengurangi depresi yang dialaminya dengan cara berafiliasi dengan orang lain.
Gejala Depresi Individu yang terkena depresi
pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik & sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilangnya rasa percaya diri  hilangnya konsentrasi dan menurunnya daya tahan. Namun yang perlu diingat, setiap orang mempunyai perbedaan yang mendasar, yang memungkinkan suatu peristiwa atau perilaku dihadapi secara berbeda dan memunculkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain.
 Menurut Frank J., Bruno dalam Bukunya Mengatasi Depresi (1997) mengemukan bahwa ada beberapa tanda dan gejala depresi, yakni:
  • Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan yang ada, proyek, hobi, atau rekreasi tidak memberikan kesenangan
  • Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat sedang cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah makan.
  • Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor penentu, sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. Tetapi dilain pihak banyak orang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur,
  • Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. Seseorang yang mengalami depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya
  • Kurang energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk mengatakan atau merasa, saya selalu merasa lelah atau saya capai. Ada anggapan bahwa gejala itu disebabkan oleh faktor-faktor emosional, bukan faktor biologis
  • Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna, tidak efektif. orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri. Pemikiran seperti, saya menyia-nyiakan hidup saya, atau saya tidak bisa mencapai banyak kemajuan, seringkali terjadi.
  • Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan untuk memecahkan masalah secara efektif. Keluhan umum yang sering terjadi adalah, saya tidak bisa berkonsentrasi.
  • Perilaku merusak diri tidak langsung. contohnya: penyalahgunaan alcohol atau narkoba, nikotin, dan obat-obat lainnya. makan berlebihan, terutama kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti misalnya menjadi gemuk, diabetes, hypoglycemia, atau diabetes, bisa juga diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku merusak diri sendiri secara tidak langsung.
  • Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri. (tentu saja, bunuh diri yang sebenarnya, merupakan perilaku merusak diri sendiri secara langsung.
      5 tips efektif  mengatasi depresi :
  • Biarkan tubuh mendapat cukup cahaya dan sinar matahari
    Kurangnya paparan sinar matahari akan memicu keluarnya hormon melatonin lebih banyak. Hormon ini dapat memicu perasaan putus asa dan depresi.
    Hormon melatonin keluar jika seseorang ada dalam ruangan yang gelap. Kebanyakan melatonin dapat menurunkan suhu tubuh dan membuat orang lemas.
    Jika orang yang sedang merasa depresi selalu mengurung diri di dalam kamar dengan tirai tertutup, maka akan sulit baginya mengatasi depresi.
  • Menyibukkan diri
    Dengan menyibukkan diri, orang akan dapat terinspirasi untuk dapat berbuat lebih baik. Hal ini akan lebih mungkin untuk mengatasi depresi. Cobalah untuk melakukan kegiatan yang disukai, seperti berjalan santai di taman, berolahraga, membaca buku atau terlibat dalam kegiatan apapun yang dapat membangkitkan gairah dan membuat hati senang.
    Tetapkan tujuan-tujuan yang berarti dalam hidup. Dengan sikap positif semacam ini, Anda akan mencapai suatu disposisi ceria untuk mengalahkan perasaan putus asa dan depresi.
  • Cukup istirahat dan waktu relaksasi
    Mendengarkan musik yang menenangkan, berendam dalam air hangat atau melakukan pijat untuk merelaksasikan otot dapat mengurangi depresi dengan efektif.
  • Makan sehat dan tetap bugar
    Hindari makanan yang mengandung banyak gula, kafein, atau alkohol. Gula dan kafein dapat memberikan energi instan, tapi nantinya akan membawa kecemasan, ketegangan dan masalah internal.
    Sedangkan alkohol adalah depresan. Banyak orang akan minum alkohol untuk melupakan masalahnya. Tapi itu justru hanya memperparah kondisinya.
    Berolahraga secara teratur adalah perusak dari depresi, karena memungkinkan tubuh untuk memproduksi endorfin lebih dari biasanya. Endorfin kadang-kadang disebut ‘zat kimia bahagia’ karena dapat mengurangi stres dan pendorong rasa bahagia yang alami.
  • Dukungan moral orang terdekat dan bersosialisasi dengan lingkungan
    Keluarga, sahabat, teman bahkan tetangga adalah orang-orang yang dapat memberikan dukungan moral kepada Anda. Menghabiskan waktu dan terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat bersama orang-orang terdekat dapat memberikan perasaan yang sangat memuaskan.
    Jangan pernah meremehkan kekuatan sentuhan. Rangkulan atau pelukan dari orang-orang terdekat dapat menjadi obat ampuh yang dapat menghilangkan stres dan membunu
 

*      Gejala social
Jangan heran jika masalah depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya memengaruhi lingkungan dan pekerjaan (aktivitas rutin lainnya). Bagaimana tidak, lingkungan tentu akan bereaksi terhadap prilaku orang yang depresi tersebutyang pada umumnya negative (mudah marah, tersinggung, menyendiri, sensitive, mudah letih, mudah sakit).

Penyebab depresi

*      Faktor genetic
Seseorang yang dalam keluarganya diketahui menderita depresi berat memiliki resiko leboih besar menderita gangguan depresi aripada masyarakat pada umumnya. Gen berpengaruh dalam terjadinya depresi, tetapi ad banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak ad seorangpun peneliti  yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja. Dan tidak ada nukti langsung bahwa ada penyakit depresi yang disebabkan oleh faktor keturunan.
* 
*      Faktor usia
Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahap-tahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak kemasa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas hingga ke pernikahan. Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi semakin menurunyang menunjukkan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena depresi. Survey masyarakat terakhir melaporkan adanya prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depresi pada golongan usia dewasa muda yaitu 18-44 tahun.
*      Gender
Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi daripada pria. Bukan berarti wanita lebih mudah terserang depresi, bisa saja karena wanita lebih sering mengakui adanya depresi daripada pria dan dokter lebih dapat mengenali depresi pada wanita. Bagaimanapun, tekanan sosialpada wanita yang mengarahkan pada depresi . misalnya, seorang diri dirumah dengan anak-anak kecil lebih jarang ditemui pada pria daripada wanita. Ada juga perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dan juga menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi atau menjadi pemicu penyakit depresi .
*      Gaya hidup
Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan dan depresi. Tingginya tingkat stress dan kecemasan digabung dengan makanan yang tidak sehat dan kebiasaan tidur serta tidak olahraga untuk jangka waktu yang lama dapat menjadi faktor beberapa orang yang mengalami depresi penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehatpada pasien berisiko penyakit jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur,makan tidak teratur, pengawet dan pewarna buatan, kurang  berolahraga, merokok, dan minum-minuman keras.
*      Penyakit fisik
Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit. Perasaan terkejut karena mengetahui kita memiliki penyakit serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri, juga depresi. Alasan terjadinya depresi cukup kompleks. Misalnya, depresi sering terjadi setelah serangan jantung, mungkin karena seseorang merasa mereka baru saja mengalami kejadian yang dapat menyebabkan kematian atau karena mereka tiba-tiba menjadi orang yang tidak berdaya . pada individu lanjut usia penyakit fisik adalah penyebab yang paling umum terjadinya depresi.
*      Obat-obatan
Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapat menyebabkan depresi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi, dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya daripada depresi.
*      Obat-obatan terlarang
*      Marijuana/Ganja
*      Heroin/ Putauw
*      Kokaina
*      Ekstasi
*      Sabu-sabu






*      Kepribadian
Aspek-aspek kepribadian ikut pula mempengaruhi tinggi rendahnya depresi yang dialami serta kerentanan terhadap depresi. Ada individu-individu yang lebih rentan terhadap depresi, yaitu yang mempunyai konsep diri serta pola piker yang negative, pesimis, juga tipe kepribadian.

Risiko yang ditimbulkan oleh depresi

*      Bunuh diri
Perasaan kesepian dan ketidakberdayaan adalah faktor yang sangat besar seseorang melakukan bunuh diri. Orang yang lanjut usia merupakan populasi yang paling merasa kesepian. Orang yang menderita depresi kadang-kadang merasa begitu putus asa sehingga mereka benar-benarmempertimbangkan membunuh dirinya sendiri.


*      Gangguan tidur: insomnia dan hypersomnia
Gangguan tidur dan depresi cenderung muncul bersamaan. Kesulitan tidur dianggap sebagai gejala gangguan mood. Setidaknya 80% dari orang yang menderita depresi mengalami insomnia, atau kesulitan untuk tidur, sering kali, kesulitan untuk tetap tertidur. Depresi juga berpengaruh terhadap kualitas tidur yang menyebabkan seseorang merasa lelah setelah bangun. Sekitar 15% dari yang mengalami depresi tidur berlebihan.
*      Gangguan dalam hubungan
Sebagai akibat dari depresi, seseorang cenderung mudah tersinggung, senantiasa sedih sehingga lebih banyak menjauhkan diri dari orang lain atau dalam situasi lainmenyalahkan orang lain, hal ini menyebabakan hubungan dengan orang lain menjadi tidak baik.
*      Gangguan dalam pekerjaan
Pengaruh depresi sangat terasa dalam kehidupan pekerjaanseseorang. Depresi meningkatkan kemungkinan dipecat dan pendapatn yang lebih rendah. Depresi mengakibatkan kerugian dalam produksi karena absenteisme ataupun p[erforma yang sangat buruk. Pekerja dengan depresi juga kehilangan lebih banyak waktu karena kesehatan yang buruk daripda pekerja yang tidak mengalami depresi.
*      Gangguan pola makan
Depresi dapat menyebabkan gangguan pola makan dan gangguan pola makan dapat menyebabkan depresi. Pada orang yang menderita depresi terdapat dua kecenderungan umum mengenai pola makan yang secara nyata memengaruhi berat tubuh yaitu:
·         Tidak selera makan
·         Keinginan makan-makanan yang manis bertambah

*      Perilaku-perilaku merusak
Beberapa prilaku yang merusak disebabkan oleh depresi adalah:
Ø  Agresivitas dan kekerasan
Ø  Penggunaan alcohol dan obat-obatan terlarang
Ø  Prilaku merokok

Cara menanggulangi depresi

1.  Obat Antidepresan
Ada beberapa obat antidepresan yaitu:
ü       Lithium. Lithium adalah obat yang digunakan untuk mengobati gangguan bipolar.
ü      MAOIs
ü      Tricyclics.
ü      SSRIs
 
2.  CBT
Pendekatan CBT memusatkan perhatian pada proses berpikir klien yang berhubungan dengan kesulitan emosional dan psikologi klien. Pendekatan ini akan berupaya membantu klien mengubah pikiran-pikiran atau pernyataan diri negative dan keyakinan-keyakinan pasien yang tidak rasional.jadi focus teori ini adalah mengganti cara-cara berfikir yang tidak logis menjadi logis.

3.  Terapi  Interpersonal
Terapi Interpersonal adalah bantuan psikoterapi jangka pendek yang berfokus kepada hubungan antara orang-orang dengan perkembangan simtom penyakit kejiwaan.

4.  Konseling kelompok dan dukungan social
Konseling secara kelompok adalah pelaksanaan wawancara konseling yang dilakukan antara seorang konselor professional dengan beberapa pasien sekaligus dalam kelompok kecil

5.  Berolahraga
Keadaan mood yang negative seperti depresi, kecemasan, dan kebingungan disebabkan oleh pikiran dan perasaan yang negative pula. Salah satu cara yang dapat dilakuakan untuk menghasilkan pikiran dan perasaan positifyang dapat menghalangi munculnya mood negative adalah dengan berolahraga.

6.  Diet (mengatur pola makan)
Simtom depresi dapat diperparah oleh ketidakseimbangan nutrisi di dalam tubuh. Ketidakseimbangan nutrisi yang dapat menyebabkan depresi semakin parah yaitu:

  •   Konsumsi kafein secara berkala. 
  •   Konsumsi sukrosa (gula) 
  •   Kekurangan biotin, asam folat dan vitamin B, C, kalsium, tembaga, magnesium 
  •   Kelebihan magnesium
  •  Ketidakseimbangan asam amino
  •  Alergi makanan

7.  Terapi Humor
Sudah lama professional medis mengakui bahwa pasien yang mempertahankan sikap mental yang positif dan berbagai tawa merespons lebih baik terhadap pengobatan. Respons psiologis dari tertawa termasuk meningkatkan pernapasan, sirkulasi, sekresi hormone dan enzim pencernaan, dan peningkatan tekanan darah.

8.  Berdoa
Banyak orang mempunyai kecenderungan alami untuk berpaling pada agama dalam memperoleh kekuatan dan hiburan. Bagi yang percaya,keyakinan yang kuat dan menjadi anggota aliran agama tertentu serta tujuan yang sama dapat menanggulangi penderitaan dan depresi.
Berdoa merupakan salah satu cara untuk mengatasi depresi. Mengambil waktu untuk berdoa member I kesempatan kepada kita menghentikan kegiatan kita dan jalan arus hidup kita.

9.  Hidroterapi dan Hidrotermal
Hidroterapi adalah penggunaan air untuk pengobatanpenyakit.terapi hidrotermal adalah penggunaan efek temperature air misalnya mandi air panas, sauna, dan lain-lain.
Pengobatan dari hidroterapi berdasarkan efek mekanis dan/atautermal dari air. Tubuh bereaksi pada stimulus panas dan dingin. Saraf mengantarkan rangsangan yang dirasakan kulit kedalam tubuh, dimana merangsang system imun, memengaruhi hormone stres, meningkatkan aliran tubuh dan mengurang rasa sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad izzudin taufiq, 2006. Panduan lengkap dan pratik psikologi islam. Depok: gema insani

Dra. Ni nengah susanti M, kes,2000 .psikologi kehamilan.jakarta :buku kedokteran EGC

Yustinus semiun, OFM,2006. Kesehatan mental 2, yogyakarta:kanisius.

Davis A tomb, 1999. Buku saku psikiatri, jakarta : buku kedokteran EGC
 
     Lumongga Namora. (2009). Depresi Tinjauan Psikologis, Jakarta: Kencana Pranada.

Tomb, D. A. 2004.Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. EGC : Jakarta
Nevid, J.S., dkk. 2005. Psikologi Abnormal Jilid I.Edisi 5. PenerbitErlangga :
Jakart
Kaplan, B.J., Sadock, V.A, 2007, Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry :
Behaviorala
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar