Behavior
Perilaku manusia
(behavior) mengacu pada berbagai perilaku fisik dan emosional bahwa manusia
terlibat dalam; biologis, sosial, intelektual, dll juga dipengaruhi oleh
budaya, sikap, emosi, nilai, etika, wewenang, hubungan, persuasi, pemaksaan dan
genetika. Jenis perilaku ilmiah dipandang sebagai tanpa arti khusus, tidak
seperti perilaku sosial yang dipengaruhi oleh harapan orang lain.
A. PENGERTIAN MAKNA DALAM PENDEKATAN
BEHAVIORAL
Padapendekatan referensial dalam mengkaji
makna lebih menekankan pada fakta sebagai objek kesadaran pengamatan dan penarikan
kesimpulan secara individual,
Dan pendekatan ideasional lebih
menekankan pada keberadaan bahasa sebagai media dalam mengolah pesan dan menyampaikan
informasi. Keberatan dari pendekatan behavioral terhadap kedua pendekatan tersebut,
salah satunya adalah kedua pendekatan itu telah mengabaikan konteks social dan situasional
yang oleh kaum behavioral dianggap berperanpenting dalam menentukan makna.[1]
Keritik lain terhadap pendekatan
lain di atas adalah pada objek utama kajian yang justru tidak pernah dapat di
observasi secara langsung. Kajian yang justru tidak pernah dapat di
observasikan secara langsung. Pernyataan dalam kajian ideasional yang berkaitan
dengan keselarasan pemahaman antara penutur dengan pendengar dalam memaknai kode
misalnya dalam pendekatan behavioral dianggap kajian spekulatif karena pengkaj tidak
pernah mampu meneliti karakteristik, ide atau pikiran penutur-pendengar,
sejalan dengan aktivitas pengilahan pesan dan pemahamannya. Sebab itulah kajian
makna yang bertolak dari pendekatan behavioral, mengkaji makna dalam peristiwa ujaran
(speech event) yang berlangsung dalam situasi tertentu (speech situation).
Satuan tuturan atau unit terkecil yang mengandung makna penuh dari keseluruhan
speech event yang berlangsung dalam speech situation disebut specch act.
Penentuan makna dalam speech act
menurut Searle harus bertolah dari berbagai kondisi dan situasi yang melatar ipemunculannya.
Unit ujaran yang berbunyi Masuk! Misalnya dapat berarti “dalamgaris” bila muncul
misalnya dalam permainan bulu tangkis “berhasil” bagi yang main lotere,
“silahkan kedalam” bagi tamu dan tuan rumah, “hadir” bagi mahasiswa yang
dipresensi pak dosen. Makna keseluruhan unit ujaran itu dalam demikian harus disesuaikan
dengan latar situasi dan bentuk interaksi sosial yang mengondisinya. Konsep
yang antara lain dikembangkan okeh Austin, Hare, Searle, Alston dll., akhirnya juga
tidak lepas dari kritik. Kritik utama yang dating dari Chomsky, menganggap bahwa
meletakan unsur luar bahasa sejajar dengan bahasa dalam rangka menghadirkan makna,
berarti menghilangkan aspek kreatif bahasa itu sendiri yang dapat digunakan untuk
mengekspresikan gagasan secara bebas. Bahasa sebagai suatu system adalah
“system dari system”. Perbendaharaan kata atau leksikon pemakaiannya bukan hanya
memperhatikan kaidah leksikan ataugramatikal, melainkan juga ditentukan oleh representasi
semantik. Komponen representatif semantic yang menunjuk dunia luar pada dasarnya
telah mengandung “ system luar bahasa” itu kedalam dirinya. Dengan demikian konteks
social dan situasional sebagai suatu system bukan berada di luar bahasa,
melainakan ada di dalam dan mewarnai keseluruhan system kebahasaan itu sendiri.
Padasisi lain pendekatan behavioral
dalam kajian semantic juga tumbuh dengan bertolak dari teori behavioris dalam psikologi.
Apabila kajian semantik yang menekankan pada fakta sosial oleh Halliday disebut
sosio semantic, maka kajian semantik yang berhubungan erat dengan behaviorisme dalam
psikologi biasa disebut dengan semantic behavioris.
Empat ciri behaviorisme secara umum
ialah[2]
1. Menolak konsep mentalisme yang mengkaji
mind dan concept tanpa berdasar pada data sahih.
2. Mempercayai bahwa binatang dan manusia memiliki
cirri prilaku dasar yang sama
3. Prilaku manusia dalam berbahasa pada dasarnya
bertolak dari dan dibentuk oleh factor sosial.
4. Memiliki konsep mekanis medalam kehidupan
manusia
Daftar pustaka:
http://www.alleydog.com/glossary/definition.php?term=Human%20Behavior#ixzz459t9YeLo