Kamis, 24 Maret 2016

Psikoterapi Holistik


Pembelajaran Holistik
Istilah holistik mengandung makna menyeluruh atau utuh. Pendekatan holistik memandang manusia secara utuh, dalam arti manusia dengan unsur kognitif, afeksi dan perilakunya. Manusia juga tidak bisa berdiri sendiri, namun terkait erat dengan lingkungannya. Manusia tidak bisa terlepas dari manusia lain, demikian pula dengan lingkungan fisik atau alam sekitarnya. Manusia juga tergantung kepada Tuhan yang Maha Kuasa selaku pencipta dan penentu hidupnya(Sawang:2011).
Menurut pusat penelitian dan pelayanan pendidikan Universitas Sanata Darma (2009) dalam artikel onlinya bahwasanya, pembelajaran holistik (holistic learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengkaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik, diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran, tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa.

Akhmad Sudrajat(2008) menuliskan dalam artike onlinya bahwasanya 2008) menuliskan dalam artike onlinya bahwasanya, tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwWBkM6Wt6G2sMtWZdgvHVhX9ervjE2tKNFrFhHKxdIlNWU68Jp5wCgnyjZVWof8KeDcSKWt5vVcJXLaPsS3eEoGo2wVQUIV8840iNzpbZw2s2zJc1KFIohveinbSRfyE5deXYv2C4-d59/s200/holistic-health41-291x300.jpg

A.             Pembelajaran Holistik
Istilah holistik mengandung makna menyeluruh atau utuh. Pendekatan holistik memandang manusia secara utuh, dalam arti manusia dengan unsur kognitif, afeksi dan perilakunya. Manusia juga tidak bisa berdiri sendiri, namun terkait erat dengan lingkungannya. Manusia tidak bisa terlepas dari manusia lain, demikian pula dengan lingkungan fisik atau alam sekitarnya. Manusia juga tergantung kepada Tuhan yang Maha Kuasa selaku pencipta dan penentu hidupnya(Sawang:2011).
Menurut pusat penelitian dan pelayanan pendidikan Universitas Sanata Darma (2009) dalam artikel onlinya bahwasanya, pembelajaran holistik (holistic learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengkaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik, diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran, tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa.

Akhmad Sudrajat(2008) menuliskan dalam artike onlinya bahwasanya 2008) menuliskan dalam artike onlinya bahwasanya, tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).

B.                 Ciri-Ciri Pembelajaran Holistik

Luluk Yunan Ruhendi (2004:187) Paradigma holistik menekankan proses pendidikan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Tujuan pendidikan holistik mengintrodusir terbentuknya manusia seutuhnya dan masyarakat seutuhnya.
2.      Materi  pendidikan holistik mengandung kesatuan pendidikan jasmani-rohani, mengasah kecerdasan intelektual-spiritual (emosional)- ketrampilan, kesatuan materi pendidikan teoritis-praktis, kesatuan materi pendidikan pribadi-sosial-ketuhanan
3.      Proses pendidikan holistik mengutamakan kesatuan kepentingan anak didik-masyarakat.
4.      Evaluasi pendidikan holistik mementingkan tercapainya perkembangan anak didik dalam bidang penguasaan ilmu-sikap-tingkahlaku-ketrampilan.

Metode dan Teknik Pembelajaran Holistik
1.      Metode Pembelajaran Holistik
Metode yang digunakan dalam pembelajaran holistic ada 2 metode yaitu:
a.       Belajar melalui keseluruhan bagian otak.
Bahan palajaran dipelajari dengan melibatkan sebanyak mungkin indera; juga melibatkan berbagai tingkatan keterlibatan, yaitu: indera, emosional, dan intelektual. Sehingga aspek kognitif , afektif,dan psikomotor dapat berkembang secra baik dan berkembang sesuai dengan tingkatan pada fase pertmbuhan manusia.
b.      Belajar melalui kecerdasan majemuk (multiple intelligences)
Siswa mempelajari materi pelajaran dengan menggunakan jenis kecerdasan yang paling menonjol dalam dirnya. Kecerdasan yang digunakan sesuia dengan karakteristik pembelajaran masing masing. Apakah itu bertipe audio, visual atau pin audio visual serta tipe belajar yang lain.

2.      Teknik Pembelajaran Holistik
Ada beberapa teknik pembelajaran holistic yaitu antara lain:
a.       Mengajukan pertanyaan
Siswa menanyakan beberapa terkait beberapa hal  seperti:
(1) Apa yang sedang dipelajari?
(2) Apa hubungannya dengan topik-topik lain dalam bab yang sama?
(3) Apa hubungannya dengan topik-topik lain dalam mata pelajaran yang sama?
(4) Adakah hubungannya dengan topik-topik dalam mata pelajaran lain?
(5) Adakah hubungannya dengan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari?
b.      Memvisualkan informasi
Guru mengajak siswa untuk menyajikan informasi dalam bentuk gambar, diagram, atau sketsa. Objek atau situasi yang terkait dengan informasi disajikan dalam gambar; sedangkan hubungan informasi itu dengan topik-topik lain dinyatakan dengan diagram. Gambar atau diagram tidak harus indah atau tepat, yang penting bisa mewakili apa yang dibayangkan oleh siswa. Jadi gambar atau diagram dapat berupa sketsa atau coretan kasar. Setelah siswa memvisualkan informasi, mereka dapat diminta menerangkan maksud gambar, diagram, atau sketsa yang dibuatnya
c.                Merasakan informasi
Jika informasi tidak dapat atau sukar divisualkan, siswa dapat menangkapnya dengan menggunakan indera lainnya. Misalnya dengan meraba, mengecap, membau, mendengar, atau memperagakan.
Pendidikan holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, emosional, fisik, artistik, kreatif, dan spritual. Sehingga dalam mengembangan pembelajaran holistic harus memperhatikan beberapa hal agar supaya pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Menutut Akhmad Sudrajat(2008) hal yang perlu di pertimbangkan yaitu:
1.      Menggunakan pendekatan pembelajaran transformative
2.      Prosedur pembelajaran yang fleksibel
3.      Pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu
4.      Pembelajaran yang bermakna
5.      Pembelajaran melibatkan komunitas di mana individu berada

d.                Konsep Dasar yang Medasari Pendekatan Holistik
Scott H Young (2005),  Prinsip holistik yang mendasari adalah bahwa organisme kompleks fungsi yang paling efektif ketika semua bagian komponen itu sendiri berfungsi dan co-operasi secara efektif. Dan ide ini berhubungan sangat erat dengan konsep sinergi, dengan seluruh yang lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. Dalam hal pendidikan arus utama pendekatan 'manusia yang utuh' untuk belajar adalah jauh lebih mungkin untuk diamati dalam pembibitan sensorik-kaya atau ruang sekolah aktivitas utama daripada di teater kecerdasan-didominasi kuliah universitas.
Secara maknawi holistik adalah pemikiran secara menyeluruh dan berusaha menyatukan beraneka lapisan kaidah serta pengalaman yang lebih dari sekedar mengartikan manusia secara sempit. Artinya, setiap anak sebenarnya memiliki sesuatu yang lebih daripada yang di ketahuinya. Setiap kecerdasan dan kemampuan seorang jauh lebih kompleks daripada nilai hasil tesnya
Adapun yang dianggap sebagai pendukung pembelajaran holistik adalah tokoh humanistik dari Swiss Johan Pestalozzi, Thoreau, Emerson, maria Montessori dan Rudolf Steiner. Semua tokoh tersebut menjelaskan bahwa pendidikan harus mencakup penanaman moral, emosional, fisik, psikologis, agama serta dimensi perkembangan intelektual anak secara utuh. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa sudah bukan waktunya lagi  pendidikan itu terkotak-kotak sepenggal-sepenggal (bukan waktunya lagi pendidikan terfokus pada salah satu ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik) dalam membentuk peserta didiknya. Mereka harus diberi pendidikan secara holistik dan ideal sebagai bekal hidupnya sehingga nantinya mereka menjadi manusia yang berkeunggulan hidup dan akhirnya mamiliki kemandirian hidup



Luluk Yunan Ruhendi. 2004. Paradikma Pendidikan Universal. Yogyakarta: IRCISoD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar