Kamis, 30 Juni 2016

PSIKOTERAPI - TERAPI KELUARGA DAN TERAPI KELOMPOK

Terapi Keluarga

A.   Pengertian Terapi Keluarga                 
Terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan seseorang, memahami perilaku, perkembangan simtom dan cara pemecahannya. Terapi keluarga juga dapat didefinisikan sebagai suatu proses interaktif yang berupaya membantu keluarga memperoleh keseimbangan homeostatis, sehingga setiap anggota keluarga dapat merasa nyaman. Terapi keluarga diperlukan jika terjadi hal yang tidak seimbang dalam keluarga, misalnya salah satu anggota keluarga mengembangkan suatu simtom tertentu yang tidak dapat ditoleransikan oleh anggota lainnya. Selain itu, terapi keluarga juga merupakan pendekatan terapeutik yang melihat masalah individu dalam konteks lingkungan, khususnya keluarga dan menitik beratkan pada proses interpersonal.
                                      
B.   Cara Melakukan Terapi Keluarga
Dalam terapi keluarga ada beberapa proses yang harus dijalankan. Ada empat langkah dalam proses terapi keluarga, proses tersebut yaitu:
1.      Mengikutsertakan keluarga
Melibatkan keluarga dalam terapi dengan melakukan pertemuan di rumah sehingga terapis mendapat informasi nyata tentang kehidupan keluarga dan dapat merancang strategi yang cocok untuk membantu pemecahan problem keluarga.
2.      Menilai masalah
Penilaian terhadap masalah mencakup pemahaman tentang kebutuhan, harapan, kekuatan keluarga dan riwayatnya.
3.      Strategi-strategi khusus
Terapis merancang strategi-strategi khusus untuk pemberian bantuan dengan menentukan macam intervensi yang sesuai dengan tujuan.
4.      Follow-up
Terapis memberi kesempatan pada keluarga untuk tetap berhubungan dengan terapis secara periodik untuk melihat perkembangan keluarga dan memberikan dukungan.

C.   Manfaat Terapi Keluarga
Manfaat terapi keluarga dibagi menjadi dua, yaitu manfaat bagi klien dan manfaat bagi keluarga.
1.      Manfaat untuk klien
a)      Mempercepat proses kesembuhan melalui dinamika kelompok
b)      Memperbaiki hubungan interpersonal klien dengan tiap anggota keluarga atau memperbaiki proses sosialisasi yang dibutuhkan dalam upaya rehabilitasi
c)      Menurunkan angka kekambuhan
2.      Manfaat untuk keluarga
a)      Memperbaiki fungsi dan struktur keluarga
b)      Keluarga mampu meningkatkan pengertian terhadap klien
c)      Keluarga mampu membantu proses rehabilitasi

D.   Kasus-Kasus yang diselesaikan dalam Terapi Keluarga
Beberapa kasus yang dapat diselesaikan dengan menggunakan terapi keluarga, yaitu:
1.      Anggota keluarga yang mengalami skizofrenia
2.      Anggota keluarga yang mengalami depresi
3.      Anggota keluarga yang mengalami ADHD
4.      Anggota keluarga yang mengalami psikosis
5.      Anggota keluarga yang mengalami gangguan mental lainnya

E.    Contoh yang Menggambarkan Terapi Keluarga
Klien merupakan anak pertama dari dua bersaudara, adik klien seorang perempuan yang merupakan saudara tiri klien. Sejak klien berusia 5 tahun, ibu dan ayah kandung klien memutuskan untuk bercerai. Ibu klien memutuskan untuk menikah lagi dan saat klien berusia 10 tahun, klien mendapat seorang adik dari hasil pernikahan ibu dan ayah tirinya. Dengan kehadiran adik tirinya, ibu dan ayah tiri cenderung membiarkan klien karena beranggapan klien telah dewasa dan dapat mengurus kebutuhan sendiri. Kemudian ayah tiri klien memutuskan untuk bercerai dengan ibu klien dan menikah dengan wanita lain. Ketika klien berusia 16 tahun, ibu klien mulai sakit-sakitan dan meminta klien untuk mencari pekerjaan agar bisa membiayai kebutuhan keluarga. Klien sering diejek teman-temannya bahwa klien adalah seorang anak yang miskin dan tidak memiliki uang. Klien merasa kecewa dan sakit hati tetapi lebih memilih untuk menyimpan perasaannya tanpa memberitahu keluarganya, sejak itu klien cenderung mengurung diri di kamar, marah-marah pada ibunya, mudah tersinggung dan mengancam akan membunuh ibunya. Selain itu, klien juga sering mendengar suara-suara yang mengatakan “jelek, goblok, miskin”. Suara-suara itu sangat mengganggu dan klien merasa heran karena suara tersebut tidak memiliki wujud seperti manusia. Hal ini membuat klien marah dan mencari sumber suara tersebut. Selain itu klien juga sering mendengar suara tersebut akan mencelakai dirinya, kejadian itu menambah kekhawatiran dan kegelisahan klien. Akhirnya pada tahun 2006 klien dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa karena klien mengancam ibunya dengan menggunakan senjata tajam dan merusak alat-alat rumah tangga.
Intervensi yang digunakan dalam terapi ini ada 2 macam, yaitu terapi suportif dan psikoedukasi kepada keluarga. Psikoedukasi kepada keluarga bertujuan untuk memberikan informasi dan pemahaman mengenai permasalahan yang dialami klien kepada pihak keluarga dan meminta keluarga agar selalu memberikan dukungan dan pendampingan kepada klien. Salah satu sesi yang dijalani dalam terapi keluarga ini adalah sesi dimana klien berkunjung ke rumah klien, terapis akan menjelaskan kepada keluarga tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan klien kambuh sehingga keluarga bisa waspada serta diagnosis dan pengobatannya.





Terapi Kelompok

A.   Pengertian Terapi Kelompok
Menurut Margaret E. Hartford terapi kelompok adalah metode pekerjaan sosial dengan namapengalaman-pengalaman kelompok yang digunakan oleh pekerja sosial sebagai medium praktik utama yang bertujuan untuk mempengaruhi keberfungsian sosial, pertumbuhan atau perubahan anggota-anggota kelompok.
Menurut Harleigh B. Trecker terapi kelompok adalah suatu metode khusus yang memberikan kesempatan-kesempatan kepada individu-individu  dan kelompok-kelompok untuk tumbuh dalam setting-setting fungsional pekerjaan sosial, rekreasi dan pendidikan.
Sedangkan  Menurut Grace L. Coyle terapi kelompok memungkinkan berbagai jenis kelompok berfungsi sedemikian rupa, sehingga interaksi kelompok dan kegiatan-kegiatan program memberikan kontribusi pada pertumbuhan individu-individu  dalam pencapaian tujuan-tujuan social yang diinginkan.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa terapi kelompok adalah suatu metode praktik yang bertujuan untuk mempengaruhi keberfungsian mengenai pekerjaan sosial, pendidikan  atau pencapaian-pencapaian sosial lainnya.

B.    Konsep Terapi Kelompok
Terapi kelompok merupakn suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih. Keuntungan yang diperoleh individu melalui terapi aktivitas kelompok ini adalah dukungan (support), pendidikan, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan hubungan interpersonal dan meningkatkan uji realitas. Sehingga terapi aktivitas kelompok ini dapat dilakukan pada karakteristik ganggguan seperti, gangguan konsep diri, harga diri rendah, perubaha persepsi sensori halusinasi. Selain itu, dapat mengobati klien dalam jumlah banyak,  dapat mendiskusikan masalah secara kelompok. Belajar bermacam masalah dan belajar peran di dalam kelompok. Namun, pada terapi ini juga terdapat kekurangan yaitu, kehidupan pribadi klien tidak terlindungi dan klien sulit mengungkapkan masalahnya. Dengan sharing pengalaman pada klien dengan isolasi sosial diharapakan klien mampu membuka dirinya untuk berinteraksi dengan orang lain.

C.    Unsur-Unsur Terapi Kelompok
1.      Munculnya Gangguan
Psikoterapi kelompok menggunakan kekuatan terapeutik di dalam kelompok, interaksi konstruktif antara anggota dan intervensi dari pemimpin terlatih untuk mengubah tingkah laku, pikiran, dan perasaaan maladaptif dari seseorang yang secara emosional mengalami distress. Pada era yang secara finansial sangat ketat, terjadi penurunan titik berat pada psikoterapi individual dan penggunaan yang meluas pada pendekatan psikofarmakologis. Semakin banyak pasien yang dirawat dengan psikoterapi kelompok dibandingkan dengan bentuk verbal terapi lainnya.
2.      Tujuan Terapis
Menururt Hartforcd dan Alissi,  metode terapi kelompok digunakan untuk memellhara atau memperbaiki keberfungsian personal dan sosial para anggota kelompok dan beragam tujuan, yakni :
a.       Tujuan korektif
b.      Tujuan preventif
c.       Tujuan pertumbuhan sosial norma
d.      Tujuan peningkatan personal
e.        Tujuan peningkatan partisipasi dari tanggung jawab masyarakat.
Menururt Gisela Konofka, tujuan terapi kelompok adalah individualisasi, rasa memiliki (sense of belong), mengembangkan kemampuan dasar untuk berpartisipasi, meningkatkan kemampuan untuk memberikan kontribus pada keputusan-keputusan melalui pemikiran rasional dan penjelasan kelompok,meningkatkan respek terhadap keberbedaan orang lain, dan  mengembangkan iklim sosial yang hangat dan penuh penerimaan.

D.     Jenis-jenis terapi kelompok
1.      Terapi Kelompok Psikoanalisa
a)      Konsep psikoanalisa dijadikan terapi kelompok oleh Wolf (1957) dan Slavson (1964).
b)      Terdapat 4-5 pria dan 4-5 wanita dalam satu kelompok.
c)      Pertemuan berlangsung selama 90 menit dan tiga kali per minggu.
d)     Menurut Slavson, terapi kelompok berguna untuk membantu klien memperoleh insight,meningkatkan kesadaran emosional terhadap trauma yang terjadi pada masa kecil.
e)      Teknik-teknik teori psikoanalisa dalam konseling kelompok dilihat dari sudut kegiatan yang dilakukan. Kelompok dibedakan atas :
1)      Kelompok aksi (action group) yang dirancang dengan tugas utama mengerjakan sesuatu.
2)      Kelompok studi (study group) yang dirancang dengan tugas utama mempelajari seluk-beluk suatu bidang dengan menggunakan sumber-sumber tertentu.
3)      Kelompok diskusi (discussion group), yang dirancang dengan tujuan utama membahas bersama suatu masalah yang dihadapi.

2.      Psikodrama / Roleplay
a)      Dibuat oleh Jacob Moreno (1920), bertujuan untuk memberikan kesempatan pada klien untuk katarsis, berperilaku spontan, dan saling memahami antar-anggota.
b)      Ada tahap dimana klien memperagakan peristiwa hidupnya yang siginifikan dihadapan anggota lainnya.
c)      Ada juga tahap dimana anggota berperan menjadi klien dan klien menjadi individu yang berpengaruh dalam hidupnya dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran klien.
d)     Menurut Moreno, bermain peran lebih efektif untuk katarsis dan membebaskan klien untuk berkreasi.

3.      Analisis Transaksional
a)      Dikemukakan oleh Eric Berne (1950). Menurut Berne fokus pada pemahaman klien daripada pelepasan emosi klien, untuk memperoleh insight mengenai kesalahan transaksi yang terjadi.
b)      Diawali dengan kontrak ("Saya ingin berhenti merasa depresi") untuk membuat rencana terapi dan evaluasinya (mencari status ego, tipe transaksi/games, naskah hidup).

4.      Terapi Perilaku Berkelompok
a)      Beberapa orang dengan masalah perilaku yang sama dapat diterapi bersama.
b)      Terdapat tiga jenis terapi perilaku berkelompok yaitu  systematic desentizitation (terdiri dari klien-klien dengan phobia yang sama, bersama-sama belajar relaksasi), assertion training groups(anggota bermain peran melakukan perilaku asertif terhadap anggota lain, lalu yang lan memberi komentar) dan kontrol yang ditujukan terhadap perilaku tertentu (seperti makan berlebihan).

5.      T-Group / Sensitivity Training Group
a)      Ditujukan untuk individu normal.
b)      Kelompok terdiri dari 10-15 individu.
c)      Bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan kepekaan perasaan, pikiran, dan tujuan terhadap orang lain, melatih kejujuran dan jadi diri sendiri, belajar memberi dan menerima umpan balik dan menyelesaikan konflik interpersonal.
d)     Hanya ada trainer yang membantu menentukan tujuan dan arah kelompok serta membantu anggota belajar dari pengalaman. 

6.      Encounter Groups
a)      Untuk mengatasi keterasingan terhadap lingkungan.
b)      Pandangan perasaan bahagia, merasa diri penuh, bertanggung jawab, punya hubungan dekat dengan orang lain, lebih jadi diri sendiri, dapat mencapai dan berbagi dengan orang lain adalah esensi sebagai manusia dan memfasilitasi individu untuk menjadi spontan dan merasakan keintiman bersama.
c)      Terapis tidak ikut campur dalam proses terapi. Pada awalnya anggota akan kebingungan, tapi lama kelamaan akan terjadi interaksi sehingga spontanitas dan keintiman dapat tercapai. ContohMarriage Encounte.

E.     Jenis dan Tujuan kelompok
Menurut Rawlins, Wiliams dan Beck (1993), jenis dan tujuan kelompok adalah :
1.      Kelompok terapeutik
Bertujuan mencegah masalah kesehatan, mendidik, mengembangkan potensi, meningkatkan kualitas kelompok dengan anggota saling bantu dalam menyelesaikan masalah.


2.      Terapi kelompok
Membuat sadar diri, meningkatkan hubungan interpersonal dan membuat perubahan
3.      Terapi aktivitas kelompok
Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok yang dilakukan secara bertahap. Selain itu, dapat juga berupa melakukan hal yang menjadi hobinya seperti menyanyi. Saat melakukan hobi, terapis mengobservasi reaksi pasien berupa ekspresi perasaan secara nonverbal.
a)      Tujuan terapi kelompok adalah untuk meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan interpersonal, membagi emosi atau perasaan yang dimiliki pasien dan agar pasien mandiri.
b)      Peran Terapis adalah terapis membantu, mendorong pasien secara aktif agar mencapai tujuan-tujuan dari terapi kelompok.
c)      Teknik-Teknik Terapi
Berikut sejumlah teknik yang dapat digunakan ketika melaksanakan terapi kelompok :
1)      Teknik yang melibatkan para anggota.
2)      Teknik yang melibatkan pemimpin.
3)      Menggunakan babak-babak terapeutik.
4)      Teknik sesekali membantu lebih dari satu anggota.
5)      Teknik untuk bekerja dengan Individu secara tidak langsung.
6)      Teknik yang menyebabkan para anggota berbagi pada tingkat lebih pribadi.

F.    Karakteristik Terapi Kelompok
1.      Pada umumnya terdiri dari 5-10 orang yang bertemu dengan terapis. Panjang sesi adalah 90-120 menit.
2.      Setting ruangan melingkar agar terapis dan anggota dapat saling melihat.
3.      Anggota kelompok heterogen (pekerjaan, tingkat pendidikan, rentang usia, dll).
4.      Jenis gangguan terkadang sama atau berbeda (sesuai kebutuhan).

G.    Kelebihan Terapi Kelompok
1.      Individu dilihat secara pribadi dan dalam interaksinya dengan lingkungan sehingga anggota menjadi lebih peka terhadap lingkungan.
2.      Anggota dapat melihat adanya masalah yang serupa di sekitar dirinya, sehingga memunculkan pemikiran "You are not alone".
3.      Adanya penerimaan dan dukungan kelompok yang pada awalnya diperlukan perasaan "kami". Anggota dapat melihat dan meniru anggota lain yang sukses dalam mengatasi masalah.
4.      Ada kesempatan untuk memperoleh umpan balik dari kelompok dan ada kesempatan untuk saling membantu antar-anggota, bukan hanya dari terapis
5.      Dengan adanya berbagai macam pribadi, kepekaan pikiran dan perasaan makin terasah. Pengalaman sebagai satu keluarga dapat memperbaiki perilaku. Kesuksesan anggota menjadi harapan bagi anggota lain untuk mencapai perubahan.
Kondisi klien terapi kelompok yang tidak di rekomendasikan yaitu :
a)      Klien dalam keadaan kritis.
b)      Takut bicara pada kelompok.
c)      Sangat tidk efektif dalam keterampilan sosialisasi (pemalu,agrsif, dll).
d)     Bila konfidensial adalah hal penting.



H.       Kekurangan Terapi Kelompok
1.   Tidak semua klien cocok seperti tertutup, masalah verbal, interaksi.
2.   Peran terapis menyebar seperti menangani banyak orang sekaligus.
3.   Sulit menumbuhkan kepercayaan kurang personal.
4.   Klien sangat tergantung dan berharap terlalu banyak pada kelompok.
5.   Kelompok tidak dijadikan sarana untuk berlatih.
6.   Membutuhkan terapis terlatih.

Contoh Kasus
Untuk menganalisa pengaruh tindakan keperawatan terapi kelompok suportif terhadap Kelompok, reponden kelompok kontrol diambil dari klien DM yang dirawat inap di Bangsal. Kemampuan mengatasi perilaku kekerasan pada klien skizofrenia di Rumah Sakit Dr. Amino Gondo Hutomo Semarang. Sedangkan perlakuan yang didapatkan klien adalah tindakan keperawatan terapi kelompok suportif sebanyak empat sesi. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini menggunakan kuesioner skala novaco dari novaco, Fauziah dan Putri dengan modifikasi peneliti. Responden diseleksi dengan menggunakan kuesioner tersebut dan bila memiliki nilai total <15 maka individu memenuhi criteria untuk menjadi responden yaitu dengan skala marah sedang. Kriteria yang lain adalah Usia dewasa (18 – 55 tahun) yang mampu mengisi data-data yang diberikan, bisa membaca dan menulis, klien yang sudah dirawat selama 2 minggu di RSJ Dr. Amino Gondohutomo Semarang, diagnosa keperawatan perilaku kekerasan (berdasarkan catatan keperawatan), jenis obat yang di minum pasien yaitu CPZ, HP dan THP (berdasarkan catatan keperawatan), klien yang sudah mendapatkan TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan (berdasarkan catatan keperawatan). Klien yang mengalami tingkat kemarahan sedang berdasarkan hasil screening emosi marah. Analisis statistik yang dipergunakan yaitu univariat dan bivariat dengan analisis korelasi pearson dan dependent-sample t-test serta Anova dengan tampilan dalam bentuk tabel dan distribusi frekuensi.

Sumber buku:
Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius

Sumber jurnal:
Pilpala, T. K. S. (2013). Terapi Supportif dan Psikoedukasi untuk Meningkatkan Pemahaman Diri Pada Penderita Skizofrenia Paranoid.
Almasitoh, U. H. (2012). Model Terapi dalam Keluarga.
Hasnida. (2002). Family Counseling.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar